boleh dilihat

HEADLINE

SUNGGUH, AKU TAK MEMAKSAMU_Puisi Puisi Riduan Hamsyah(Semarak Sastra Malam Minggu)

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 32

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam.  kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. Apabila dalam 2 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)

SEPERTINYA IA TERJEBAK

Dirimu, sepertinya, sedang terjebak
ke dalam asbak
yang penuh puntung rokok dan sisa abu
sisa dari sebuah ketidak-jujuran berjalan.

Tak ada yang mesti engkau risaukan, sayang!
Selain berpura pura setia, itu juga menyiksa
membuat batinmu keruh menjadi kumpulan darah kotor
jantungmu jadi hitam merupa tikam
tikam mata, tikam hati, tikam jiwa, tikam kata kata.

Aku tak memaksamu bertahan di sini
jika engkau tak begitu ikhlas dengan jagad ini
wilayah yang kering
pemukiman yang miskin, tempat seniman seniman karbitan
seperti kami meratapi hiruk pikuk busuk
tak ada aura kuasa apalagi kenangan manis soal cinta.

Jika engkau menyesal maka, tidurlah.
Tidur yang lelap dan bermimpi tentang sebuah dunia yang tenang
tentang sebuah rasa ketakutan yang berhasil engkau redakan
tentang hari hari panik
tentang sebuah kitidak-tulusan kausembunyikan
tentang dunia yang damai, tak ada tikai. Tetapi, di dunia ini,
belahan mana yang masih damai itu, Adik?
Kukira dirimu semakin bermimpi saja!

Kukira pula, engkau, sedang tak enak perasaan
tersebab kutukan yang kau kunyah sendiri
prasangka itu dan ini
membakarmu jadi abu, jadi rasa senyap yang kalap
dan aku tak ingin dirimu menderita karena kutukan itu
; lipatlah debar di pintu lelaplah di balik kelambu
lebarkan selimut jiwamu, tutupi kulitmu yang ngeri itu
agar tak dingin, agar terhindar dari pilihan-pilihanku yang licin.

Banten, 16062018


MAAFKAN AKU MEMBAWAMU

Maafka aku telah membawamu
ke sini
pada igau langit dan pikiran pikiran ganjil
membuatmu kian gigil.

Gigil dalam ketakutan membadai
hingga sekujur tubuhmu pahit, sebuah pilihan sulit.

Mungkin aku sudah terlalu jauh
menceritakan padamu tentang jarak pandang
tentang keberanian memilih kata kata
untuk dilemparkan ke bumi sepi
melepuh jalan ditempuh, sisanya merupa risau
yang begitu sulit kau halau.

Ahai, aku paham, saat kau diam
dan mempertimbangkan jalan untuk pergi.

Banten, 16062018


AKU TAU YANG ENGKAU PIKIRKAN

Pernah aku berikrar, "Tak akan lagi-
tunduk pada suasana.."
Suasa malam menangis
suasana bulan di bangku taman
dan sepasang kekasih saling menyulam pirasat bengal

Tidak. Aku sudah jauh berubah!
Menyingkirkan rasa terjajah itu ke sebuah tempat
menguburnya dalam dalam
dan kembali ke jagad ini dengan hakikat warna.

Warna kekunang yang terbang
warna pelangi yang bias cahaya saja
bahkan warna sunset, atau bola matamu yang ungu itu
sehingga aku bisa menangkap yang sebenarnya kaupikirkan
yang begitu jauh engkau sembunyikan.

Banten, 16062018


SUNGGUH, AKU TAK MEMAKSAMU

Aku tidak pernah mengajarkanmu
bagaimana cara mencintaiku, sebab
cinta itu pahit
bila tertelan engkau akan mati
atau, setidaknya, walau tak mati engkau
bisa gila karenanya.

Aku tak pernah memaksamu
menemuiku
menemui segala yang hambar ini segala yang mencelat
dari pirasat sia sia
di garis ini segala yang pernah kau dengar adalah getar
berayun di tulang tulang bait, saling berhimpit, menarasikan hidup sulit

Tatapi aku cuma ingin memancarkan realita
dari pikiran-pikiran baru
peta jalan ke syurga yang bisa saja kau terobos
lewat celah lain, cuma saja, sungguh
aku tak pernah memaksamu
mengenal hakikat badai atau percakapan yang kausebunyikan di tempat lain.

Banten, 16062018

BILA DIRIMU INGIN SEMBUNYI

Bila dirimu ingin sembunyi maka
sembunyilah
ke balik kantung penguasa di negerimu.
Di sana engkau akan merasa aman
dari lolong anjing berebut tulang, bahkan dari kematian
yang dijauhi semua orang.

Di luar itu adalah udara
yang dipenuhi bibit penyakit, gatal gatal yang bisa saja
membuat retak kulit tubuh
lama bersimpuh pada rasa cemas yang nyaris utuh.

Kasihan, engkau lusuh
keletihan yang tak berbuah apa apa
selain kesiasia-an dalam pikiran orang ringkas
menyematkan harapan pada sebuah lekuk tertentu saja
menghindari perseteruan dengan tukang parkir di pasar
menghindari kemacetan di jalan jalan kota
menghindari debu dan kotoran langit
menghindari hidup susah
yang dengan susah payah telah engkau singkirkan petanya.

Bila engkau ingin sembunyi, maka
tutuplah matamu
padamkan lampu-lampu, lalu (di rumahmu)
pindahkan letak pintu.

Banten, 16062018

Tentang Penulis: Riduan Hamsyah, karyanya dipublikasikan sejumlah media massa dan puluhan buku-buku antologi. Buku kumpulan puisi pribadinya yang baru saja terbit KITAB TUNGGUTUBANG (Perahu Litera 2018)

Tidak ada komentar