boleh dilihat

HEADLINE

Info Pertanian: Musim Kemarau Tiba, Petani Sayuran di Lambar Masuki Musim Paceklik


Air merupakan hal yang vital dalam semua unsur kehidupan, ketersediaan pasokan air yang memadai sangat diperlukan agar semuanya tetap berjalan dengan baik terutama untuk sektor pertanian ataupun perkebunan.


Musim ketiga (istilah para petani untuk menyebutkan musim kemarau di pertengahan tahun) merupakan momok yang menakutkan bagi kaum petani di Lampung Barat khususnya di area Liwa dan sekitarnya dimana mayoritas penduduknya adalah petani sayuran yang sangat bergantung terhadap curah hujan untuk penggarapan lahannya.


Jika jatuh pada kondisi musim ketiga tersebut banyak para petani sayuran yang membiarkan lahannya terbengkalai bahkan kosong karena memang tidak digarap. Bibit bibit yang telah disemaipun tak jadi ditanam sebab jika dipaksakan untuk ditanam pun pertumbuhannya juga lambat, keriting dan cenderung kerdil sehingga hasilnya juga tidak akan maksimal.

Seperti yang diungkapkan oleh Dedek (34 tahun) warga Desa Way Menjadi Kecamatan Sukau yang sehari harinya berprofesi sebagai petani. Menurutnya selama kemarau itu berlangsung banyak warga harus memutar otak untuk mencari alternatif pekerjaan lain guna memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka agar asap dapur tetap mengebul. Sementara jika harus memasang pompa penyedot air sungai untuk disalurkan ke lahan perkebunan membutuhkan biaya yang besar untuk ukuran kantong petani kecil dengan modal terbatas seperti dirinya sebab jika mengandalkan menggunakan air PDAM saja mesti berebut dengan yang lainnya. Akhirnya tak ada yang bisa mereka perbuat selain hanya pasrah membiarkan lahannya kosong sambil menunggu tibanya musim hujan.


Adapun bagi beberapa petani yang memiliki cukup banyak modal seperti Tambah (50 tahun) tuturnya harus pula merogoh kocek lebih dalam membeli air untuk menyiram tanamannya yg dihargai antara Rp.150.000 sd 200.000 per mobil L-300, itu belum termasuk upah mempekerjakan lebih dari 5 orang untuk menanam dan menyiram tanaman sayur tersebut.

Begitulah potret menyedihkan para petani kecil yang memiliki modal minim  dimana hanya mengandalkan kebaikan cuaca dan tenaga semampunya. Selebihnya hanya menunggu dan berharap kapan Tuhan akan mengirim hujan.

Semoga ke depannya program program pemerintah di negeri ini dapat lebih mengakomodir ketersedian sarana bagi para petani sehingga ketika kemarau tiba hal tersebut tidak menjadi kendala mereka untuk terus bercocok tanam guna meningkatkan tingkat perekonomian warga untuk terus bertahan hidup.


(Liputan jurnalis Simalaba: Titin Ulpianti)

Baca juga: Info Lingkungan: Banyak Pembuangan Sampah Liar di Jalan Raya Sumberjaya-Kebun Tebu_Liputan Q Alsungkawa

Tidak ada komentar