boleh dilihat

HEADLINE

INDAHNYA BERBAGI_Cernak Titin Ulpianti (Semarak Sastra Idulfitri 1439 H)



Tono, Andi, Yanto dan Jono adalah sahabat baik. Mereka satu kampung di desa Bah Way, lampung barat.  Keseharian mereka hanya belajar,bermain dan sesekali mencari rumput untuk ternak mereka. 

Di antara mereka. Jono termasuk keluarga yang serba kekurangan. Ayahnya sudah lama tiada, ia tinggal bersama emak dan kakaknya.

Emak Jono hanya seorang buruh tani kopi dan sayuran milik para tetangganya. Kakaknya masih sekolah SMP dan Jono  masih kelas 4 SD. 

Tak terasa sebentar  lagi mau lebaran. Tono, Yanto dan Jono bermain kerumah Andi. 

“Kalian sudah beli baju lebaran belum?” Yanto bertanya ke pada Tono dan Jono.

“Aku sudah beli dua, kemeja panjang celana levis dan baju koko buat sholat. sama sendal”. tersenyum bangga. 

“Aku juga sudah kok Yanto. Malah aku dapat kiriman sepatu dan baju dari Mbah  di jawa. Kalo kamu Jon--?.”

“Aku, aku belum beli.” Jono hanya tertunduk sedih. Jangankan untuk membeli baju dan sendal baru, untuk makan seperti kalian saja aku sudah bersyukur. Untuk bilang minta dibelikan saja aku tak berani. Kasian emak aku kerja keras demi sesuap nasi untuk kami. juga biaya sekolah  agar tak putus di tengah jalan. 

Tanpa sadar kami pun sudah berada di halaman rumah Andi. Aroma kue menyebar ke seluruh halaman, baunya bikin perut makin keroncongan. Andi menyambut dengan suka cita. 

“Mau kemana kita?”

“Gak tau, kemana ya sambil nyore. Kebetulan aku sudah selesai ngaret suket.” Ujar Yanto dan tono bebarengan. Sedangkan Jono hanya diam memperhatikan.

“Kalau kalian bantu aku mau gak--?”

“Bantu apa Andi?” Yanto kembali bertanya 

“Cari daun buat bikin tape”.

“Siap, ayo berangkat.”

Mereka berangkat menuju kebon Andi yang tak jauh dari rumahnya. Mereka mencari daun pisang sambil sesekali becanda. Mereka semua tampak senang bercerita tentang pakaian baru, sendal baru, sepatu baru, uang THR sampai sudah berapa macam emak mereka membuat kue. 

Jono tercenung sepertinya hanya emak saja yang sibuk ikut mutil kopi tetangga, boro boro  mau buat kue macam macam, beli baju seperti biasa terabaikan. Ia hanya bisa pasrah dan kasihan melihat emak tiap pagi berangkat, dan asar baru pulang. Belum lagi istirahat. Sudah pergi lagi membantu kakak di dapur memasak buat buka puasa mereka. 

Hari semakin sore, daun pisang dan lidi sudah terkumpul. Mereka langsung mandi di kali dekat kebun. Untung tadi Andi tak lupa membawa pancing. Sambil mandi Jono dan Andi memancing di sawah Yono yang ada si bawah kebon kopi Andi. 

“Sudah dapat ikannya belun Jonn” teriak Yanto yang asik bermain air di pancuran. 

“Sudah, baru dapat dua.”

“Ikan apa?” 

“Nila”

“Aku cari cacing lagi ya.” Ujar Andi dan berlalu dari pandangan. 

Ikan yang mereka dapatkan cukup lumayan. Jono bersyukur bisa buat lauk emak dan kakak di rumah. Lama sekali  rasanya mereka tidak makan enak. Terakhir mereka makan enak ketika Ibu Andi mengadakan acara syukuran ulang tahun adiknya, itupun dua bulan yang lalu. 

Dalam perjalanan pulang tiba tiba Andi bertanya“Kamu belum beli baju ya Jon--?”

Jono mengannguk. Hari semakin sore. Kamipun pulang ke rumah masing-masing.  

Sepulang tarawih Andi mendekati ayah dan ibunya yang lagi duduk istirahat di ruang tamu.

“Pak, boleh aku minta sesuatu?

“Memang ada apa le.”

“Kasian Jono Pak, setiap lebaran dia gak pernah beli baju baru”

“Terus maksud kamu gimana?”

“Boleh gak pak kalau lebaran ini kita kasih THR baju buat Jono. Baju  baru aku tahun kemaren belum terpakai. mungkin masih cukup di pakai Jono.” Bapak  menatap penuh rasa haru dan bangga. Ternyata putra sulungnya mempunyai rasa peka terhadap sahabatnya yang kekurangan jiwa sosialnya sudah nampak dari sekarang.

Ayah menyetujui keinginan Andi dan Andi senang sekali walaupun harus membantu ayah di kebon. Yang jelas aku tidak bebas bermain lagi.tapi aku sangat senang dan bahagia.

Kebetulan malam ini Jono tidak berangkat teraweh, hanya Andi Yanto,dan Tono yang berangkat.

“Lebaran kalian mau jalan kemana?” ujar Tono kepada Andi dan Yanto.

“Aku mau jalan-jalan ke Krui sama mamak dan bapak aku. Kalau kamu Andi?”

“Aku gak tahu, soalnya  keluarga aku dari kota bumi pada kesini”

“Iya ya,dua hari lagi kan lebaran, kalian sudah bayar fitrah belum?”

“Belum,menurut kamu gimana andi?”

“Kasian Jono setiap lebaran tidak pernah memakai pakaian batu, sarung nya saja itu lagi itu lagi. Gimana kalau kita fitrahnya kesana. Kebetulan aku ada baju baru yang kekecilan, sepertinya cukup buat Jono, badannya kecil” ujar Andi.

“Aku sendal dan sepatu, kebetulan aku juga dapat kiriman dari mbah, nanti aku bilang dulu sama mamak aku ya, siapa tahu boleh.” Yanto tak kalah semangat dari Andi.

“Kalau kamu  Ton?”

“Aku punya sarung banyak, kemaren waktu dikhitan banyak yang memberi kado sarung.”

Ahirnya mereka bertiga sepakat membayar zakat kepada Jono, kebetulan dia anak yatim.

Dari kejauhan tampak Tono dan Yanto datang sambil bermain kembang api.

“Kamu bawa apa aja Ton”

“Aku bawa sarung. Dan sedikit kue titipan Ibu buat Jono.”

“Aku bawa sendal Baru. Sama beras buat zakat.”

“Aku bawa uang..!!” Andi dan Yanto bersamaan. Lalu mereka bertiga tertawa bersama-sama menuju rumah Jono.

Di depan rumah,tampak Kak Ros sedang menyalakan obor di halaman. Agar rumah terang ketika anak-anak pawai obor sambil takbiran.

“Assalamualakum”

“Walaikum salam. Eh Andi, Tono sama Yanto mau cari Jono ya? Masuk aja, dia ada di dalam sama mamak.”

“Iya, kak” 

Lalu Andi ,Yanto dan Tono memberikan hadiah THR buat Jono dan emaknya, Jono menangis haru. Dia sangat berterima kasih pada teman-temanya. Lebaran kali ini benar benar berbeda,dia bisa merasakan pakaian baru sendal baru dan sarung baru. Tak lupa mereka pun memberikan uang zakat untuk Kak Ros dan Jono. Sebagai tambahan uang saku buat lebaran besok. 

Di dalam kamar emak menangis penuh rasa haru dan bahagia. Ternyata teman-teman Jono begitu baik dan perduli. Mereka tidak mengucilkan Jono yang anak yatim dan orangnya tidak mampu di kampungnya.

Setelah berpamitan, mereka  pergi ke-Mushola untuk berkumpul dan bertakbir menyambut hari kemenangan.

Betapa indahnya berbagi di hari yang fitri, bukan seberapa banyak kita memberi.tetapi, seberapa iklas kita berbagi dengan hati yang tulus dan betapa indahnya persahabatan dalam kebersamaan.


Tamat


Tentang Penulis :

Titin Ulfianti, karyanya berupa cerpen, puisi dan cernak diterbitkan di media simalaba.com. sekarang tengah bergiat di KOMSAS Simalaba Lampung Barat.

Tidak ada komentar