boleh dilihat

HEADLINE

Rimba Matamu_Puisi Puisi Deni Hamdani (Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)



RIMBA MATAMU

Di rimba matamu
Ada rinduku yang tersesat disana,
kekasih.

Ia amat kebingungan ketika harus mencari kemana arah pulang
Sedang jejaknya tak sedikitpun ia ingat--
hingga tak bisa keluar
hingga putus asa;

Rinduku tertanggal disana, kekasih

27 April 2018


INGATAN

Di bibir pantai sore itu
Aku melihat senja

Aku menemukan sisa ingatan kita yang telah sama-sama luput diantara debar dan debur kala itu

Aku coba menyimpannya kembali
Dengan penuh hati-hati
Dengan rapi;
di ruang paling sepi--juga rahasia

Tapi waktu sudah lebih dulu membangkang
Meluntur bersama hati yang tak pernah tahu arah pulang

Kita hanya bisa percaya;
sejatinya jarak adalah rindu yang abadi

Dan kita hanya mampu yakin;
sejatinya rindu adalah perihal suatu yang berjarak

Meski kita bukan lagi kita sebenarnya
Atau kau sudah tak sudi lagi mengingat perihal kita masa itu

Kau tahu?
Senja kala itu teramat membangunkan ingatan dan rinduku padamu yang telah habis lamanya

5 April 2018.



RINDU

Tuhan mengabulkan apa yang hambanya minta setelah dengan khusyu berdoa
apalagi menggunakan air mata
Tapi aku tak habis pikir;

mengapa Ia membiarkan rindu ini terus-terusan, menggemercik, mengalir, mengarus tanpa ada lautan temu yang menampungnya

4 April 2018



AKU INGIN TERUS MENCINTAIMU

Aku ingin terus mencintaimu, kekasih;
seperti pagi yang tak pernah kehilangan embunnya
seperti waktu yang tak ada habisnya

Kau tempat yang belum sempat usai kukunjungi; tempat dimana orang-orang merasa aman dan nyaman

Kau buku-buku yang belum dan tak akan habis kubaca; buku yang memuat dan membuat candu para pembacanya hingga tak pernah bosan

Kau ialah kata, kalimat sekaligus puisi yang sering memenuhi buku sampai kepalaku

Jika kau adalah sepatu
Maka aku tali sepatumu--mengikat kuat agar dirimu tak terlepas dan tetap terjaga

Aku tak pernah bertanya perihal masa lalumu--meski ia jauh lebih dulu tahu semuamu
Sebab itu hanya akan memperburuk dan membuatmu muak

Kini,
kau dan aku sudah menjelma kita;
kita yang ingin kita tetap sabar
kita yang ingin kita tidak ada bosan
kita yang ingin kita selalu berperhatian
kita yang ingin kita saling mencinta dan mengasihi
pun kita yang ingin kita melangkah dengan sedewasa mungkin

7 Maret 2018.


MAUKAH? 

Kekasih, maukah hatimu menjadi rumah bagi segala lelah hingga riangku?
Sebab aku hanya ingin pulang dan menetap di persinggahan paling nyaman tanpa satu pun orang tahu cara memasukinya; kecuali kita

11 Februari 2018.



MASA KEMARIN

Aku rindu perihal masa kemarin yang telah disediai waktu;
dengan kita sebagai tamu hidangan--duduk dan memesan menu yang telah ditawari harapan

Aku rindu perihal kita yang masih malu-malu untuk bicara atau jujur bahwa kita sama-sama suka
sama-sama cinta

Aku rindu dengan kita yang selalu berbincang tentang suatu hal yang dibuat selucu mungkin
hingga tertawa
hingga lupa waktu;
kita bahagia

Ada sesal ketika perasaan menipu
Padahal nyaman sudah ada dari lamanya
meski perkenalan dan keakraban kita terbilang absurd

Tapi takdir Tuhan sudah berskenario
Kita jalani saja dengan seikhlasnya

Barangkali, ini alurnya--
katamu
Dan kini,
kita sedang menghirup kebahagiaan kita sendiri tanpa orang lain tahu

23 April 2018

KAKEK TUA DEPAN SEKOLAH

Pagi sebelum matahari nyengat, seorang kakek tua dengan pakaian dekilnya duduk dekat depan gerbang masuk sekolah

Ia duduk di bawah kerakal-kerikil yang sedikit menduri

Ia mengemis-ngemis dengan tubuh seperti pohon yang hilang dan habis keluarganya

Ia menengadahkan kedua telapak tangannya kepada semua orang yang hendak ngajar dan belajar

Berharap uang dapat dikantonginya
sambil berujar:
"Bu, Pak, minta sedekahnya"

Namun sayang, bel masuk telah bunyi, semua orang pada pelit, tangannya tidak juga hasil apa-apa

Lalu ia merintih dan berdoa:
"Tuhan, tolong beri saya rezeki. Saya sudah tidak bisa bekerja. Saya hidup sebatang ranting.  Saya butuh uang buat bayar kematian dan pemakaman saya nanti".

13 Januari 2018


MALAM

Malam tak pernah kehilangan gelapnya, kekasih. Meski ada bulan dan bintang yang menjadikannya begitu terang. Seperti kata-kataku yang tak akan dan tak pernah habis untukmu. Kau adalah ruang bagi segala rinduku yang raung. Tempat dimana puisi-puisi bersemayam.

Selamat malam. Ada sayang yang terukir dan tak bisa terukur jauh dalam hatiku;
percayalah

18 April 2018.


Tentang Penulis :

Deni Hamdani, menyukai sastra, sekarang berdomisili di Jawa Barat

Tidak ada komentar