HEADLINE

KRIPIK SINGKONG PAK SUBUR _Cernak Culien SAmpymai(Semarak Sastra Malam Minggu)

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 35

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen,cernak dan artikel (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. Apabila dalam 2 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)


       Sore ini Bram mengajakku bersepeda lumayan jauh dari desa. Ternyata kami sampai di desa Widodaren. Sejenak kami berhenti di sebuah warung karena lelah. Bram baru ingat jika dia memiliki saudara di desa ini. Akhirnya dia mengajakku ke rumahnya. Untungnya rumah saudaranya itu tidak jauh dari tempat kami istirahat. 
        “Paman Subur, Assalamu’alaikum.”

“Kok tidak ada jawaban ya, Bram?” 

“Kita langsung ke belakang saja, mungkin Paman ada di kebun,”

Ternyata yang Bram sebut sebagai kebun tadi adalah tanah yang sangat luas dan ditumbuhi tanaman singkong. Daun-daunnya yang menjari bergerak-gerak terkena angin. Udara disini tidak terlalu panas dan tidak juga terlalu dingin. Angin bertiup pelan sehingga udaranya menyejukkan. Di balik rerimbunan pohon itu terdapat laki-laki beruban yang duduk. Kamipun menghampirinya. 

“Paman.”

“Loh Bram, sama siapa kamu, Nak?”

“Ini Paman, perkenalkan, dia temanku namanya Frey”

“Heii, Frey.. kau anak yang tampan!” 

“Terimakasih Paman,” 

Agak ragu aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan paman Subur. Tetapi Mama selalu mengajariku untuk menghormati orang yang lebih tua. Aku mencium tanggannya dan sedikit tersenyum. Paman Subur sungguh membuatku kasihan. Dia hanya memiliki satu kaki, sedangkan kaki kanannya terlihat sangat kecil dari ukuran manusia normal. Akan tetapi raut wajahnya terlihat selalu bersemangat. 

Paman Subur mempersilakan kami masuk ke rumahnya. Alangkah terkejutnya aku ternyata di dalam ruamahnya sangat banyak sekali kripik singkong. Kripik singkong itu memiliki berbagai macam varian rasa. Kripik itu belum dikemas dalam plastik sehingga masih berbentuk gunungan besar dalam kantong plastik besar. 

“Ini Paman sendiri yang membuat?” Tanyaku terkesima.

“Iya, Frey. Kamu boleh makan sepuasnya, ambil sendiri ya!” 

“Beneran Paman?”

“Ah kamu kebanyak nanya, ayo makan saja Frey,”

Bram langsung memilih varian rasa kripik singkong yang disukai. Akupun mengikuti. Ada yang rasa keju, balado, jagung bakar, original, dan banyak rasa lain. Pada gigitan pertama rasanya bikin ketagihan. Paman Subur hanya tertawa melihat tingkah kami sambil geleng-geleng kepala. 

“Mau sampe kapan kalian makan terus, nanti gendut loh. Ayo paman ajari membuatnya.” 

“Beneran, Paman? Wah akan menyenangkan ini,” jawabkku. 

Paman mengambil satu bak penuh singkong. Tangannya sibuk mengupas sembari bercerita. Ternyata kisah hidup paman tak seberuntung ini. Dulu semasa kecil dengan kondisi fisik yang tidak lengkap, paman sering mengurung diri di rumah. Saudara-saudara sekandungnya merasa malu. Akan tetapi ibu dari paman Subur tetap menguatkan hatinya. Semua ini adalah bukti cinta Tuhan kepada kita katanya. 

Akhirnya ibu paman Subur mengajarinya bercocok tanam karena tanah di sebelah rumahnya sangat luas. Paman berusaha dengan sangat keras karena cibiran orang-orang menjadi cambuk baginya. 

“Orang cacat berhak sukses kan, Nak?” 

Paman berkata mantap, kami berdua mengangguk dan tersenyum mengiyakan. Buktinya sampai sekarang kripik singkong paman sudah dijual ke luar pulau Jawa. Dengan tekat dan semangat yang tinggi paman menggunakan keterbatasannya dengan baik. 

“Dulu ibu hanya menjual singkong ke pasar sedangkan daunnya dibuat sayur oleh warga”

“Terus siapa yang puny ide membuat kripik singkong, Paman?”

“Paman sendiri,” 

“Paman hebat!” 

“Tidak, Nak. Paman hanya tidak mau orang-orang memandang remah. Suatu hari paman ke pasar. Disana paman melihat kripik singkong banyak. Tetapi, ya begitu. Rasanya sedap biasa. Akhirnya paman berfikir membuat berbagai macam varian rasa. Nyoba-nyoba eh banyak yang suka.. hehe”

“Kalin anak yang baik. awal mengenal Paman sudah tidak segan dengan kondisi Paman,”

“Ah, paman, kita sama. Sama-sama manusia yang diciptakan Tuhan. Sama-sama makhluk Tuhan. Kata Mama begitu harus saling menghormati.” 

Paman Subur merasa sangat bahagia. Singkong-singkong itu akhirnya di cuci bersih dan ditipiskan kecil-kecil. Beberapa bumbu diracik sebelum akhirnya digoreng. Paman terus saja bercerita. Hingga kripik singkong buatan paman benar-benar sudah matang. 

“Ini namanya kripik singkong Pak Subur, hahaha” 

“Yaamiii.. buat kami ini, Paman?” 

“Iya, dong. Kasihkan ke Mama kalian. Bilang terimakasih sudah mendidik anak dengan sangat baik,” 

“Ah.. Paman bisa saja.” 

“Bram, kapan-kapan ajak aku main kesini lagi, ya. Aku ingin membantu paman.” 

“Siap, Frey. Tenang kapan saja kita bisa main. Asalkan tidak banyak PR.” 

“Oh, iyaa.. kita belum mengerjakan tugas dari Bu Rosa. Mama pasti marah ini,”

“Mamamu tidak akan marah. Kan nanti dikasih kripik singkong yang enak banget!!”

“Hahahaha… Dasar Bram. Pintar saja dia mengambil hati.”

“Eh.. siapa dulu!” 

Bram dan Frey akhirnya berpamitan sambil terus saja mengunyah kripik singkong. Perjalanan yang sangat menyenangkan hari ini. Sepeda dikayuh semakin kencang karena hari sudah petang. 


Tentang penulis:

Culien SAmpymai,lahir dan dibesarkan di Pasuruan yang merupakan mahasiswa strata satu di Universitas Trunojoyo Madura. 


Tidak ada komentar