boleh dilihat

HEADLINE

PERCAYA PAKDE YONO_Cerpen Luhur Satya Pambudi (Semarak Sastra Malam Minggu)

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 27

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. Apabila dalam 2 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)



Pakde Yono yang kukenal adalah lelaki yang cukup pendiam, tapi setiap berkata selalu bermakna dalam. Keseharian hidup beliau sangat bersahaja serta rendah hati sifatnya. Mereka yang belum mengenalnya barangkali tiada mengira Pakde Yono merupakan wakil direktur utama perusahaan raksasa. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar telah ditinggalinya sejak hampir dua puluh tahun silam. Mobilnya adalah sedan buatan Jerman, yang biarpun dari mereknya berkualitas nomor wahid, tapi sudah lima belas tahun dimilikinya. Selain itu, hanya ada sebuah minibus buatan Jepang yang sudah sekian waktu tersedia di garasi rumahnya. Jika Anda sempat melihat tempat parkir di kantornya, mobil Pakde Yono tampak paling butut dan ketinggalan zaman. Mobil para bawahannya malah lebih mentereng dan kekinian.

Bude Yono pun tak kalah bersahaja ketimbang suaminya. Penampilannya bagaikan istri karyawan kelas menengah semata, tidak seperti pendamping orang nomor dua di perusahaan besar. Beliau adalah kakak kandung almarhum ayahku. Anak-anak Pakde dan Bude Yono, yaitu : Mas Daru, Mbak Diah, serta Mas Dimas, mampu mengikuti kesederhanaan orangtuanya. Mas Daru bekerja sebagai dosen, Mbak Diah bersama suaminya membuka usaha restoran dan kerajinan tangan, sementara Mas Dimas menjadi wartawan sekaligus musisi. Kendati secara finansial mereka berkecukupan, namun tak seorang pun dari mereka yang gaya hidupnya berlebihan. 

Pakde Yono masih kerap terlihat makan di warung pinggir jalan. Padahal jika beliau mau, makan di restoran termahal di Jakarta saban hari pun sanggup dibayarnya. Beliau pernah berujar bahwa lidahnya lebih cocok dengan masakan khas Indonesia yang tersaji di tempat sederhana.

“Kenapa Pakde Yono tidak seperti orang kaya pada umumnya, yang lebih suka hidup bermewahan?” tanyaku kepada Pakde Yono sewaktu tengah mengunjungi rumahnya.

“Memang menurutmu Pakde Yono ini kaya, ya? Saya hanya merasa nyaman hidup seadanya begini.”

“Tapi, bukankah dulu Pakde pernah hidup susah juga? Apa ada pengaruhnya dengan gaya hidup Pakde Yono sampai sekarang?”

“Ya, Pakde memang pernah lama hidup susah. Pengaruhnya mesti saja ada. Tapi, saya tidak mau balas dendam dengan masa lalu yang kurang menyenangkan. Semua adalah proses semata yang mesti dijalani dan mesti terus disyukuri.”

”Lantas, kenapa banyak orang kaya yang suka hidup hedonis, ya?”

”Entahlah, barangkali hal itu bisa membuat mereka lebih puas menikmati hidup? Sementara Pakde dengan cara begini saja sudah nikmat sekali rasanya. Saya sudah begitu berterima kasih pada Tuhan. Lagi pula, rikuh juga mengingat masih banyak teman-teman kita yang hidupnya susah, kok malah saya hidup mewah?”

Sosok semacam Pakde Yono mungkin jarang ditemui di negeri ini. Yang jelas, aku bangga mengenal cukup akrab dan bisa belajar banyak tentang kehidupan dari beliau. 

***

Sampai pada sebuah saat, sesuatu mengejutkan terjadi. Pakde Yono dituduh telah melakukan korupsi ketika menjadi direktur keuangan sekian tahun lalu. Aku sungguh tak paham, bagaimana mungkin beliau melakukan korupsi, merampas sesuatu yang bukan haknya alias menjadi maling? Rasanya hal itu mustahil sekali! Buat apa korupsi, sedangkan keseharian hidupnya -aku tahu persis- tak perlu biaya berlimpah, apalagi hal-hal bersifat mewah. Semua anaknya pun sudah berdikari serta hidup mapan dengan pekerjaannya masing-masing. 

Apakah mungkin Pakde Yono memiliki sebuah proyek rahasia yang perlu biaya luar biasa besarnya, hingga mesti korupsi? Apakah mungkin juga ada pihak yang begitu berkuasa membuat sang lelaki sederhana terpaksa melakukan hal tak masuk akal, lantas beliau dijadikan tumbal demi menutupi kebusukan mereka? 

Tak kukenal secara saksama orang-orang yang telah menuduh Pakde Yono dan melaporkannya kepada aparat penegak hukum. Sekadar pernah kulihat penampilan mereka di televisi. Kesanku, mereka terlalu banyak omong kosong, tinggi hati, kurang tahu sopan santun, dan jika menilik cara berbusana maupun mobil yang dikendarainya, cara hidup mereka berlebihan. Yang jelas, mereka bukanlah figur yang ingin kuakrabi. Apakah seperti mereka itulah yang bersih, idealis, peduli kepentingan banyak orang, dan bisa dijadikan sebagai tokoh idola di negeri ini? 

***

Sejak berita dugaan korupsi yang dilakukan Pakde Yono mengemuka, demonstrasi yang menuntut beliau dihukum berlangsung di mana-mana. Tidak jarang, caci maki penghinaan ditampilkan para demonstran. Tempat beliau bekerja adalah perusahaan yang sangat ternama, sehingga kasusnya menarik perhatian khalayak ramai. Belasan pengacara terkenal dikabarkan mengantre berhasrat menjadi pembela Pakde Yono. Kebanyakan dari mereka pernah meloloskan para koruptor dari jeratan hukuman yang berat, bahkan ada yang sukses membuat si koruptor diputus bebas murni. Namun, kakak ipar ayahku itu bergeming. Beliau tidak bersedia didampingi mereka dan memilih cukup ditemani tim penasihat hukum yang merupakan teman-teman putra sulungnya. 

Kerabat terdekat dan para sahabat Pakde Yono berdatangan ke tempat tinggal beliau di Jakarta untuk memberikan dukungan moral maupun spiritual. Aku yang tinggal di Bogor turut hadir pula. Banyak orang yang datang bersamaan denganku, padahal kami sama sekali tidak janjian. Rumah yang tak terlampau besar itu pun sejenak menjadi rada sesak. 

“Saya sungguh menghargai dukungan saudara dan teman-teman terbaik saya yang telah hadir kemari. Terima kasih, Anda semua masih tetap mempercayai saya dalam kondisi seperti saat ini. Saya siap menghadapi tuntutan hukum apa pun. Saya yakin bahwa saya tidak mengambil apa yang bukan hak saya. Apa yang telah saya lakukan adalah semata-mata tugas serta tanggung jawab saya sebagai seorang profesional. Saya mohon doa restu dari semua, semoga kami tetap ikhlas dan tegar menghadapi cobaan ini,” ucap Pakde Yono dengan suara bergetar.

Hening begitu terasa ketika sang tuan rumah bicara. Kami semua yang berada di situ terpaku dan membisu belaka. Apalagi saat Pak Musa, salah satu sahabat Pakde Yono, kemudian memimpin doa bersama. Sempat terdengar isak tangis ketika sang ustaz memanjatkan sejumlah harapan ke hadirat Yang Mahakuasa.   


***

“Saya dengar, Pakde Yono menolak dibela para pengacara top itu. Kenapa demikian?” tanyaku setelah sebagian besar tamu pulang.

“Iya, padahal mereka kan sudah terbukti hebat. Mereka pernah bisa membebaskan koruptor segala lho, Pakde,” tambah Evan, salah satu keponakan langsung Pakde Yono yang telah kukenal cukup baik.

“Pakde kalian ini kan bukan koruptor, jadi tidak perlu dibela pengacaranya para koruptor itu. Terus saya juga mau bayar mereka pakai duit siapa? Pasti mahal sekali membayar jasa mereka. Bukankah Pakde tidak menyimpan duit hasil korupsinya?” sahut Pakde Yono dengan tersenyum.

“Kok Pakde bisa tetap tenang, ya? Padahal di luar sana banyak yang menghujat dan menghina Pakde. Saya heran dan penasaran, apa mereka tidak pernah diajari sopan santun oleh orangtua dan gurunya?” kata Evan lagi.

“Pakde tetap percaya tidak bersalah dalam hal ini. Suatu saat nanti, waktu akan bicara dan membuktikan bahwa yang benar itu memang benar. Biarlah saya dipandang buruk di mata sesama manusia, yang penting saya selalu berusaha terlihat baik di hadapan Tuhan. Lagi pula kalian juga masih percaya bahwa Pakde orang baik, kan? Masalah sopan santun, saya kurang paham. Tapi, mungkin memang itulah salah satu kekurangan sistem pendidikan di negeri ini, Evan.”

”Jujur saja, aku sebetulnya marah sekali melihat bapakku dibegitukan. Apalagi sebagai wartawan, aku mesti turun ke lapangan dan menyaksikan sendiri bagaimana bapakku demikian direndahkan oleh mereka. Tapi, Bapak selalu berpesan supaya kami bisa sabar, ya aku manut saja,” ujar Mas Dimas menimpali ucapan Pakde Yono.

”Kata Pakde kalian ini, hidup itu memang mesti selalu ada masalah silih berganti. Yang penting, kita harus tetap tenang, sabar, dan berpikir jernih menghadapinya. Toh, Tuhan pasti akan memberikan cobaan yang sesuai dengan kemampuan kita sendiri-sendiri. Betul begitu kan, Pak?” tutur Bude Yono yang disambut anggukan dan senyuman hangat dari suami tercintanya.

***

Pakde Yono lantas mesti berkali-kali menjalani pemeriksaan di kantor kejaksaan, hingga akhirnya ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi di perusahaannya sendiri. Aparat penegak hukum merasa telah memiliki cukup bukti untuk membawa kasus tersebut ke pengadilan. Sebelum diberhentikan, beliau lebih dahulu mengajukan surat pengunduran dirinya sebagai wakil direktur utama agar kinerja perusahaan tidak terusik oleh kasusnya. Pakde Yono pun dikenai status sebagai tahanan sesuai ancaman pidananya. Mereka yang menuduh beliau korupsi bersorak gembira melihat kenyataan yang ada. Sementara itu aku sendiri hampir menangis di depan televisi ketika melihat sosok yang sangat kuhormati digelandang aparat menuju rumah tahanan.

”Bagaimana kondisi Pakde Yono? Sepertinya Pakde terlihat lebih kurus, ya?” tanyaku yang tengah menjenguk beliau sekalian menemani Bude Yono dan Mbak Diah, tiga hari setelah Pakde Yono resmi ditahan.

”Ya, maklumlah. Namanya juga tidak tinggal di rumah sendiri, tidak ditemani istri pula, pantaslah tambah kurus begini. Tapi, Pakde mencoba santai saja menghadapinya. Mungkin memang sudah saatnya bagi saya beristirahat sejenak dari hingar-bingar kesibukan duniawi. Di sini saya malah merasa bisa lebih akrab dengan Ilahi,” ujar Pakde Yono. 

”Pakde tidak minta perlakuan istimewa, seperti orang-orang berduit lainnya?” tanyaku iseng karena aku kenal betul karakter beliau.

”Ketimbang buat membayar petugas, ya lebih baik duitnya dikasih ke panti asuhan, membantu mereka yang terkena bencana alam, atau dibelikan buku buat anak-anak sekolah yang tidak mampulah,” jawab Mbak Diah sebelum bapaknya membalas pertanyaanku.

”Iya, betul kata Diah. Lagi pula Pakde ini kan paling hobinya cuma baca buku. Jadi, ya tidak perlulah fasilitas, seperti televisi, karaoke, atau apalah,” sahut Pakde Yono dengan senyuman.

”Baiklah kalau begitu. Intinya, Pakde Yono harus tetap semangat dan jaga kesehatan saja, jadi nanti saat menjalani sidang selalu siap dan kuat,” ucapku sungguh-sungguh. 

Pakde Yono manggut-manggut tersenyum sambil tangannya menepuk bahuku, matanya tampak berkaca-kaca. Aku lantas memeluknya sebagai pertanda dukungan moral. Kuharap keyakinan bahwa beliau tidak bersalah memang benar adanya dan terbukti dengan terang benderang dalam sidang di pengadilan, yang dapat berlangsung secara adil, transparan, jujur, dan sesuai nurani. Yang jelas, aku tetap percaya Pakde Yono sanggup menghadapi ujian berat dalam hidup yang tengah dijalaninya akhir-akhir ini.


TAMAT

Tentang Penulis:

Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di sejumlah media massa cetak maupun daring. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).





Tidak ada komentar