boleh dilihat

HEADLINE

MAHASISWA UGM MENGAJARKAN PEMBUATAN GELAS SUVENIR BERBAHAN SAMPAH SEKAM PADI DI DESA SRIHARDONO

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)


Sekam Padi atau yang sering disebut merang merupakan bagian kulit padi yang telah kering atau buah padi yang tidak memiliki bulir/ bijih padi didalamnya. Desa Srihardono, Pundong, Bantul merupakan salah satu desa penghasil sampah sekam padi terbanyak di Kabupaten Bantul dengan jumlah sampah sekam yang dihasilkan adalah 1 ton/tahun. Pemanfaatan sekam padi di Desa Srihardono saat ini hanya sebagai campuran pakan ternak dan sisanya terbuang sebagai sampah organik. Minimnya pemanfaatan sekam padi di Desa Srihardono ini menginspirasi lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada untuk menjadikan sampah sekam padi menjadi komoditas yang mampu dijual dengan harga yang ekonomis. 

Melalui pengabdian masyarakat berbasis pengembangan ekonomi kreatif, Tim G’Mers melakukan pendampingan untuk mengembangkan sampah sekam padi menjadi suvenir gelas ramah lingkungan. Tim ini terdiri dari lima orang mahasiswa yaitu Bayu Aji Pamungkas (D3 Manajemen 2017), Ajeng Rahmadani Fisabilah (D3 Manajemen 2017), Cornelia C. Armala (Kimia 2017), Dikki Apriyanto (PSDK 2016), dan Eti Rahayu (Teknik Geologi 2016) dengan Ibu Fitri Damayanti Berutu, S.E., S.S., M.Sc. sebagai Dosen Pendamping. 


Inovasi pemanfaatan sekam padi ini berawal dari keprihatinan terhadap kondisi Desa Srihardono akan banyaknya sampah sekam padi yang tidak termanfaatkan dengan baik. Melihat sekam padi yang hanya dibuang di pinggir jalan dan menganggu pemandangan menggugah semangat lima mahasiwa tersebut untuk menjadikan sampah sebagai inovator penggerak ekonomi penduduk. Sekam padi yang berserakan di pinggir jalan tersebut digiling untuk kemudian diberi lem dan dicetak menjadi gelas suvenir.

Tidak hanya pelatihan pemanfaatan sekam padi saja, kelima mahasiswa ini juga mengajarkan tata cara pembuatan, pengemasan, promosi dan pendampingan inovasi produk. Masyarakat diajarkan tentang kecintaan terhadap lingkungan hidup yang bersih dan bebas sampah hingga bagaimana mengolah sampah yang awalanya tidak berharga menjadi punya daya jual yang ekonomis. 


Kedepannya program ini diharapkan mampu menjdi Inisiator pemanfaatan sekam padi di desa-desa lain dan mampu menjadi suvenir khas Pundong sebagai lumbung padi Kabupaten Bantu (Simalaba Yogyakarta)

Tidak ada komentar