boleh dilihat

HEADLINE

GERIMIS DI KOTA DENPASAR_Puisi Puisi Angga Wijaya(Semarak Sastra Malam Minggu)

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU : EDISI 28

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. Apabila dalam 2 bulan naskah tidak dimuat maka dipersilakan mengirimnya ke media lain.
(Bagi karya yang dimuat malam minggu diberikan honorarium sepantasnya)


GERIMIS DI KOTA DENPASAR

Tak ada disembunyikan dari hujan
Basahi tanah dan kenangan kita
Berguguran jatuh di pelupuk mata
Teduhkan gelisah yang menderas
Pandangi siang dan langit temaram

Suara anjing keluar dari pintu sebelah
Kukira ia lapar, namun tidak. Ia hanya
ingin kebebasan, tergadai oleh dryfood
atau sekerat daging. Juga nafsu manusia
Anjing beri cinta dan setia, setidaknya
saat ini ketika kesepian melanda diri.

Lupakan soal anjing. Mari bercakap
tentang liburan telah lewat. Pantai
tempat segala sedih berlalu, larut dalam
canda riang dan tawa. Kulihat kau ketawa
seperti saat menangkan pertempuran
di permainan gawai yang kau suka.

Buatkan aku kopi, agar siang makin
hangat. Hujan genangi perigi. Mencari
tempat berlabuh bagai kapal rindu
daratan. Mendekatlah! Beri peluk
mesra dan cinta menjelma dongeng
Di kota yang kian melupakan dirinya.

2018

JL. TUKAD BARITO, PANJER

Malam ini kau rindu takbir
Jauh dari kampung halaman
Tak ada melebihi hari suci
Pulang bertemu ibu terkasih
Setelah lama di tanah rantau
Berjibaku dengan hidup lirih

Di kedai kopi, kita nikmati lagu
kenangan; prajurit kalah di medan
perang, berpisah dengan kekasih
m4ti dalam kecemasan dan depresi
ingatkan kau pada lelaki masa lalu
percintaan sisakan duka dan lara

K3mati4n datang  tanpa kabar
Bersedikap, tangis tak henti berlalu
Bertahun kemudian saat kau di pelukku
Di masa dan tempat berbeda, tak kau
kira bahkan dalam mimpi sekalipun

Cinta dan nasib begitu misterius
Pagi datang setelah malam berlalu
Kelam menghilang dalam bayang
Di matamu bahagia menjelang
Selamat tinggal kegetiran!

2018

KEPADA S.B

Tawa anak-anak
Lebih merdu
Dari lagu cinta
Mabuk asmara
Tubuh fana
Dipuja-dirindu
M4ti. Tangis.
Berkejaran
Samsara.

Hari ini kau
Cantik. Ingin
Dimanja. Kau
Bidadari. Ratu.

Itu hanya lagu
Disuka remaja,
Dinyanyikan
Anak-anak
Terperangkap
Di tubuh kecil
Bayangkan diri
Dewasa, jatuh
Cinta entah
Pada siapa.

Lagumu diputar
Di mana-mana
Memabukkan!
Kau tentu senang
Terkenal-dikenal
Kau perempuan
Ingin dimanja
Cantik. Ratu!


2018

LORONG 3

Inikah pagi kita cari?
Di pasar susuri lorong
penuh suara pembeli
Kucing teronggok di
pojok, kelaparan
Anjing kumal melintas
mengiba minta makan
Harum dupa tercium
Di altar pedagang

Kau memilih ikan
Mengamati Google
Mencari jenis tepat
Memasak sup
Rencana hari ini
Menu lama
Dulu sekali
Pernah kumakan
Saat Ibu hidup
Pelita hati-jiwa

Kita pulang
Dengan bahagia
Mengolah bahan
Makan berdua
Di kamar sempit
Walau hidup
Kian menghimpit

2018


MALAM LEBARAN

Kota terlelap dalam mimpi
Sepi ditinggal penghuni
Pulang ke tanah kelahiran
Hari raya nan suci, kembali
ke hakikat diri. Polos bagai
kanak-kanak, hati bersih
tempat Tuhan bertahta

Bagai musafir, kuarungi
waktu, jejakkan kaki
di bumi tua-renta
Belajar banyak hal
dari orang-orang
Berjalan sendiri
Temukan diri
Tafakur, teringat
diri kufur penuh
noda dan dosa.

Cinta-Mu lah
kurindu. Kucari
di banyak masjid
pada malam tahajud
beribu sujud ingin
bersatu dengan-Mu
Kulihat Engkau
Di mana-mana
Mataku terbuka
Beribu cahaya
Terangi jalan

2018


KARCIS NO 213

Berjalan di instalasi rumah sakit
Aku kalah oleh nasib dan waktu

Kerasnya hidup tak mampu kulawan
Penyakit mendera bagai hela cemeti

Suara terbungkam di bising percakapan
Senyap merayap di dinding kamar kusam

Kutelan obat pahit sepuluh tahun berjalan
Bersama suara-suara mengganggu malam

Kenyataan kuterima dengan setengah gila
Di ruang beraroma karbol kub*n*h sunyi

Pagi sisakan mentari di lorong-lorong sal
Bayang masa lalu berkejaran di ingatan

Pulang kembali ke asal-muasal kelahiran
Kesementaraan abadi dalam gambar diri


2018

Tentang penulis

Angga Wijaya, Bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya. Lahir di Negara, Bali, 14 Februari 1984. Belajar menulis puisi sejak SMA saat bergabung di Komunitas Kertas Budaya asuhan penyair Nanoq da Kansas. Puisi-puisinya pernah dimuat di Warta Bali, Jembrana Post, Independent News, Riau Pos, Bali Post, Jogja Review, Serambi Indonesia, Denpost, Tribun Bali, tatkala.co, balebengong.id, qureta.com, galeribukujakarta.com dan Antologi Puisi Dian Sastro for President! End of Trilogy (INSIST Press, 2005) serta Mengunyah Geram (Seratus Puisi Melawan Korupsi) yang diterbitkan oleh Yayasan Manikaya Kauci, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Jatijagat Kampung Puisi (2017). Buku kumpulan puisinya berjudul “Catatan Pulang” diluncurkan pada Januari 2018. Bekerja sebagai wartawan lepas di Denpasar.







































Tidak ada komentar