boleh dilihat

HEADLINE

SETELAH DUSTA KAU BACAKAN_Puisi Puisi Adekta Marbun (Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)

SETELAH DUSTA KAU BACAKAN

Raut yang cemas bersalin gamang
saat apatis kau lakonkan
nafasku berantakan, setelah dusta kau bacakan.

Mengisahkan luka dalam sajakku
pesona alasan untuk berlagak sombong
merangkum nona di depanku
serta kau tersenyum sinis kepadaku.

Sungguh hatimu kini buta
mempermainkan akan rasaku
sedang kau paham, bagaimana hati yang jatuh dan mencinta.

Sibolga, Juni 2018


KAU SUGUHKAN KEPALSUAN

Cinta
salahkah bila gadis kecil jatuh cinta?
menaruh harap pada tuan
dengan cita kesatria.

Bagaikan ombak menghantam tubuh mungil kerang
mengajak bermain ketengah
lalu dihempas kepinggir.

Demikian ketika kata kau rangkai menjadi kalimat
hingga suguhan kepalsuan acap kunikmati
namun pada hakikatnya
kepalsuan berhasil menampar kalbuku.

Seiring udara penyejuk dari segala gundah
mari bertanam pada ingatan
semat logika kadang tak perlu
bila kepalsuan yang kini tengah bertindak


Sibolga, Juni 2018


TERLINTAS DALAM PIKIR

Bias di antara rinai mengisahkan segala
reinkarnasi dirimu membalut dingin gigil gila
bersama antologi berisi kenang.

Arloji menunjuk setiap detik
mengajak ingatan untuk sekadar bertamu
kenangan yang tlah berhasil kutanam dengan pupuk kecewa
kini terlintas lagi dalam pikir.

Huh!
semuanya masih terasa nyata
kecupan hangat mendarat pada kening
deraian lembut teruntai di mahkotaku
serta genggaman yang menggiringku ketika melangkah
salahkah bila detik ini aku merindu?

Sibolga, Juni 2018


TERSADAR PERIHAL HATI


Betapa dungu nya puan ini
menanti sang senja
disiang terik
bersama lantunan doa.

Tersadar perihal hati tidak bergurau
perihal asmara tidak seindah imajinasi
jua memiliki
tidak seasik bermain kalimat.

Kulukis sajak padamu
ketika air mata pengungkap sejati
bersama penyesalan yang tak berhujung.


Sibolga Juni 2018



KUTITIP SAJAK

Mata kini membuta
telinga menuli
tapi
hati tetap menunggu
sang purnama pemenang dari segala sajak.

Meski torehan luka dituai
memperdengarkan senandung kecewa bersama penyesalan.

Udara si pembawa kabar
penenang dalam masanya
saat ini aku tengah menunggu hadirnya
esok,
lusa,
dan sampai kapanpun.

Sibolga, Juni 2018



PERGI DALAM DIAM

Berlalu sudah detik hingga jam
masih saja setia dengan tatap
semu itu
serta ditemani nostalgia
seolah mengajak untuk mengingat.

Puanmu ini teringat
ketika lagu itu kau nyanyikan
dengan ukiran senyum
penyaluran damai.

Puanmu ini pun tersadar akan caramu yang diam
diam membuat mencinta
lalu diam melululantahkan
hingga pergi dalam diam.

Diam mu meninggalkan sejuta rasa
dengan sebongkah nestapa
yang tertancap padaku.

Sibolga, Juni 2018


Tentang Penulis :


Adekta Marbun lahir di Desa Raso Unte Mungkur IV Kec.Kolang 
pada tanggal 29 Oktober 2001, bersekolah di SMA Swasta Katolik Sibolga, karya penyuka warna ungu ini diterbitkan di Simalaba.net sekarang tergabung di komunitas Ikatan Penulis Indonesia.

Tidak ada komentar