HEADLINE

Puisi Puisi Norrahman Alif _GEMA ORANG-ORANG JURANG ARA

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU:  EDISI 07 2018
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya puisi untuk dibuat konten video)
Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)

(Klik video puisi di bawah ini untuk menonton)

GEMA ORANG-ORANG JURANG ARA

Kitalah orang-orang desa jurang ara,
hidup dari keringat kuning waktu.
Sementara tubuh adalah hari-hari 
berkulit perih, dari rasa nyeri tulang
menguras nyali dan tenaga menjadi
orang-orang kuli sawah-sawah.

Dan mimpi-mimpi kita hanya setinggi rumputan,
berharap layak hidup walau lahir dari kesedihan,
dan mati terkubur sejarah bahagia tanpa utang 
dan siksaan.

Sebab, kitalah orang-orang kuli desa di zaman
berdebu, kata raja-raja kota. Yang tak mengenal 
sejarah buku-buku dan kata-kata di bangku sekolah 
mewah, dan tolol soal menggoyangkan pulpen,
politik, apa lagi ilmu tikus tipu dan menipu itu.

Kita hanya pandai bekerja, memadatkan urat lengan
meankan cangkul di di atas tanah, walau ke sawah-sawah perantauan.
Terpisah dari anak-istri dan bersabung rindu dalam mimpi-
mimpi perih di tubuh malam-malam kita yang linu.


Jurang Ara, 2107


NENEK MOYANGKU SEORANG PESAWAH

1
Di bumiku yang klise, nenek-moyangku pernah menyadarkan
punggung hidupannya pada sembahyang padi-padi, jagung-
jagung di sajadah sawah-ladang perkampungan. 

Dan hari ini hanyalah pengulangan-pungalangan harapan dan sejarah
dari sebongkah kerak tanah silam. Sebab, bagi petani tak ada yang lebih 
permata dari segumpal tanah adalah surga: lahan segala babad kehidupan
bermula dan berbiak, dari masa lalu sampai dunia menjadi sebutir debu. 

Sedang, keringat asin waktu hari-hari adalah langgar kaum tani:
tempat mereka bersujud–berdoa merayu Tuhan di langit legam, 
agar mengencingi wajah bumi dengan deras air hujan.

2
Lalu pada hari senja, di barat mata waktu. Dahi langit cekung berdarah, 
dan tanah kampung berwarna merah bibir perawan desa. Lalu kulihat
langit layang-layang telah dinaikkan anak-anak kencur, di saat kaum 
tani telah angkat kaki dari sepetak sawah: pulang membawa keringat
yang dikeringkan di malam-malam linu melelapkan. 

Atau sebagian masih di pematang, seperti kulihat mak tuaku
dengan telanjang dada,  pulang seusai menyadap mayang dari
pohon  siwalan. Yang kelak di malam perawan, kesabaran
nenekku menjadi kayu bakar dalam tungku berkobar, menunggu 
demi gula di atas kuali masak dan mengental, atau wanginya
yang selalu dibawa pergi angin ke sela-sela hidung perkampugan.

Jurang Ara, 2017

PASCA HARI KEHILANGAN

Yang tersisa dalam dengung cerita, setelah kehilangan
menganyam sejarah kepulangan adalah rasa asin kenangan 
memedihkan luka ingatan. Namun, sebelum kutahu kapan
hari malang jatuh di terminal surabaya. Dalam malam bis, 
ingatanku menari kantuk di kursi paling belakang,
dengan kanvas angan kangen melukis kampung kelahiran.

Amboi, alangkah tololnya kerja anganku itu.
Tanpa membayangkan tangan-tangan berbahaya 
disekitar kelengangan waktu,  yang tiba-tiba
mengintai dan tiba tiba pergi dengan menyisakan 
onak air mata berbiak dalam hati.

Kini tinggal palu sedih menderaku berkali-kali, 
pedih bukan hanya dari lenovo, ruang bagi sajak-sajakku 
bertapa, musium bagi jutaan catatan sejarah air mata purba, 
yang telah pergi bersama tangan pencuri. Tetapi, paling
kusesalkan adalah dramatik kata-kata yang memuisikan 
segala peristiwa batin, cinta dan derita lenyap seketika.

Oh, waktu malam ini adalah ingatan yang tak pernah sunyi:
terus mengucap belasungkawa kepada anak-anak imajiku
yang berjalan ke makam kenangan kehilangan.


Jurang Ara, 2017

KEPADA KAWAN DI KOTA SEBERANG

Kawan, perpisahan belum menjadi kenangan
jika segelas kisahku masih kalian seduh di sendu
malam-malam rindu, sebab aku tahi ingatan masih 
bersama kalian di sana, di antara kata-kata kelaparan
dan derita yang hitam menempel di dada pintu kamar.

Kawan, perpisahan belum menjadi kenangan, 
sebab kenangan hanya bagi mereka yang takluk 
pada kata, takut pada air mata, lalu tenggelam 
dalam angan semata.

Tetapi, aku pengemis kata-kata darah yang tak pernah tuntas 
kalian jarah jadikan sejarah dalam sajak. Dan kalian padi-padi
ilham di sawah ingatanku, yang terus kupanen kisah, kutanam
makna di sekitar ladang diksi-diksi sajakku.

Maka, bakarlah kata-kata perpisahan di bibir kalian.
Sebab, pertemuan selalu kita rayakan dengan segelas 
duka dan sepiring kata-kata dalam sajak-sajak ini.


Jurang Ara, 2017


MITOS HUJAN DI TUBUH ORANG VIKING

Konon orang-orang Viking berbahagia 
ketika Thor bertamansya menembus angkasa 
dengan kereta terbang yang ditarik sepasang
kambing ajaib. 

Sebab, bagi mereka Thor adalah dewa hujan
simbol kesuburan bagi  bumi para petani Viking. 
Di saat palunya diayunkan di dalam tujuh lapis langit,
adalah kabut dan guntur yang menggeletarkan anak-
anak hujan turun memeluk dengan kuyup tubuh Skandinavia.

Lalu kubaca mitos dalam tubuh orang-orang Viking,
Mereka menganggap Thorlah yang membiakkan segala kehidupan.
Dari kesuburan sawah-ladang adalah panggung bagi segala
jenis tetumbuhan: jagung-jagung, padi-padi, umbi-umbian 
bernyanyi riang di saat para petani Viking memanennya.

Tetapi, kupahami musim di kampungku ada dua warna: 
hujan dan kemarau. Dan aku hanya menyebutnya
musim tercipta dari rasa kabut cinta di langit, dan dari
rasa terik duka matahari kemarau.

Namun, dari tikungan kata-kata sejarah kaum tani Viking, 
tiba membantahku. Bahwa sesungguhnya musim kemarau 
tercipta dari kehilangan palu Thor saat tidur. Dan hujan bermusim
di ayunan palunya.


Jurang Ara, 2017


KARENA DIKSI-DIKSI HATI
TAK BISA BERDUSTA DALAM PUISI

Kucari makna diam dalam bahasa senyapmu
yang mengembang jadi angin tenang, jadi kata
rekah, jadi bahasa resah dalam puisi-puisiku.

Tetapi kaukah itu di luar-dalam waktu? 
Kira-kiraan yang terus tersusun dari galau
batu-batu angan dalam gudang pikiranku.

( seperti bulu nasib berwarna kelabu
Beberapa jam lagi esok bahagia, detik ini air mata )

Sebab, sejak sebelum dan sesudah dunia tercipta,
dimanakah kau berada dan berumah?
di hutan kata atau dalam goa bahasa.

Atau kau tercipta dari percik keyakinan 
nenek-moyang manusia, yang mengungsi
 diam-diam ke dalam tenda-tenda hati 
cucu-cicit adam dan hawa.

Maka, jadilah kau kekal dalam ingatan 
namun rapuh di bibir-bibir para pelupa.

( seperti hari, tiba-tiba minggu pergi ke sabtu
tiba-tiba selasa pulang ke senin.
Padahal kesedihanku berlibur di hari jumat,
lalu berhenti di titik rabu rusuh resahku bekerja.
Sungguh sunyi dan singkat hari-hari memaling
usia yang kian dekat pada mati )

dan karena diksi hati tak bisa berdusta dalam puisi,
kupilih kau dan kematian sama saja gelapnya
ketika usia tak menemukan jawaban dalam diri manusia,
bagi pertanyaan yang tak kunjung berujung pada jawaban.

Kapan maut menikahiku
dengan mahar kematian?

Jurang Ara, 2017



PULANG

Pada ibu yang bernama rindu,
kulalui dengan mata perih di jalan berdebu
dengan semangat menggebu, dan menderu
selalu namamu dalam mesin kalbu.

Dan waktu bagai mogok bus menghambat pulangku
dengan lamban seribu lelah dan rindu menuju kamar ibu. 


Jurang Ara, 2017

PALU HUJAN

Matahari haru di kelopak mata langit kelabu
seperti tak ada keasingan
palu-palu hujan memukul punggung siang
dengan air meluber di wajahku.
Lalu mengalir ke muara dadaku 
membikin dingin batu-batu tenggelam
ke hati paling dalam.

Jurang Ara,2017


BERCOCOK-TANAM KATA

Hujan bersyair tentang bunga mekar didadaku
kala jemari fajar lembap memoleskan gincu
pada bibir langit lalu tersenyum genit pada sapi-sapiku.

Lalu di pagi-pagi sekali pada sawah bahasa,
kupotret bapak-ibuku dengan cangkulnya membalik kata
mengubur luka musim diliang tanah-tanah basah.

Dengan kesabaran yang subur, sebelum padi-padi berdiri
di ladang hatiku dengan biji-biji kata dan benih majas
kutabur dan kupupuk dengan harapan di masa depan
tersaji sepiring puisi masak.


Jurang Ara, 2017


Tentang Penulis



Norrahman Alif, lahir di Dusun Jurang Ara, Sumenep Madura. Ia bergiat di antara dua kutub: di desa dan di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ). Menulis resensi, esai dan puisi. Karya-karyanya pernah dimuat Minggu Pagi, Radar Surabaya, Merapi, Media Indonesia, LiniFiksi, Kedaulatan Rakyat, Wasiat Darah, Sasoma, antologi puisi Ketika Burung burung Telah Pergi, antolgi puisi ASEAN 1, Buletin Jejak, NusantaraNews, dll. 

Tidak ada komentar