boleh dilihat

HEADLINE

Video Puisi "KITAB TUNGGUTUBANG"

(disertai konten video, silakan tunjur untuk menonton)



KITAB TUNGGUTUBANG

Inilah musim, ketika
sulit berkepanjangan. Ketika dusun kami dalam riwayat embun
menahun hening
jejak kepuyangan mengendap jadi guritan
yang kemudian hari petanya menguap dalam sekelumit hasrat merantau.

Kami kemudian merantau
dalam igau laut
dalam hikayat Sriwijaya yang pernah menghapal bahasa ombak
gemeretak
tulang-tulang kapal melambungkan hasrat pergi hingga jagad paling tinggi
ranah ini kemudian menjadi tempat dirut yang kian mendewasa
melupakan siamang bukit, melupakan midang malam, melupakan
segala yang tersesat ke dalam batu betangkup
atau segala yang hilang dalam remang remang petang, ngaliambang
dengan sedekap hasrat berenang ke seberang.

Di dusun, kitab tunggutubang, adalah tengkiang
sebuah lumbung tempat berpulang tangkai menangkai padi huma
setelah berbulan bulan dikandung dalam kudung, dalam terjangan musim kecici
pada tengkiang juga selaksa kisah kedamaian disematkan
sebelum ia merupa
tungul beliung yang pernah membuat berderak kaki kaki rimba
di garis ini, tunggutubang, berhenti sebagai si sulung perempuan. Memutuskan
untuk pergi jauh
sejauh mata memandang sejauh perjalanan air anak yang terusir dari celah luang.

Sebab endung, bahkan hingga bapang menjadi debu, dari rahimnya
tak ada bekas tunas bernama si sulung perempuan itu
endung hanya melahirkan empat lelaki, dimana si sulungnya benar-
benar mendulat diri sebagai lanang. Melanglang tualang
bahkan hampir mengunci kalimat pulang. Itu sebab adik sanak kami tak pernah
paham muasal tunggutubang
hingga gugus gugus kawe memanjangkan tulang sendi
hingga punggung pematang melepuh dan angin belukar menjadi tua
kegelisahan ini memuncak
ketika sebuah sikap menentukan dalang, atau menjadi pendulang apidjurai
tergantikan oleh wajah meraje: yang juga gagal memaknai hikayat itu.

Tetapi bila (kelak) kami telah memutuskan untuk belipat
menancapkan sisa tumit
ke jalan pulang, jangan katakan lagi bila hikayat ini, telentang
dipanggang cahaya petang.

Sumatera Selatan-Banten, 20042017

Tidak ada komentar