HEADLINE

KHIDIR | Cerpen Farhan Fuadi |

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.comBeri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini juga memberi ruang bagi sahabat pemula dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor)Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.


“Siapa yang membuang biji dan mangga busuk di halaman rumah?” Ibu Pariah tampak bingung sambil terus menyapu halamannya sementara pikirannya tidak berhenti menerka siapa kiranya orang iseng yang melakukan hal tersebut. Kelalawarkah? Sebanyak itukah? 

“Pak.” Teriak Bu Pariah memanggil suaminya.

“Kenapa bu, pagi-pagi sudah teriak-teriak. Ada apa emangnya?” Pak Sumarna  melipat korannya dan meletakkannya di atas meja tamu di sebelah cangkir kopi hitam yang kental dan masih panas.

Pak Sumarna, suami bu Pariah, adalah seorang juragan besar di kampungnya. Ia tangkulak sukses untuk segala macam hasil bumi. Sayangnya ia banyak melakukan praktek rentenir dalam usaha tengkulaknya. Kerap kali petani yang berurusan dengannya tercekik hutang bekas mengurus pertanian dan perkebunannya. Untuk urusan pupuk dan lain-lain, memang Pak Sumarna menyediakan barang dan jasa untuk kebutuhan pertanian dan perkebunan para petani di Kampung Kerajan Desa Jaya Makmur, Karawang. Perutnya juga gendut dengan katup mata yang sedikit beler. Mungkin banyak makan sumpah petani yang kecekik.

“Itu, loh Pak. Ibu menemukan banyak mangga busuk dan bijnya di halaman rumah. Padahalkan di rumah kita nggak ada pohon mangga. Tetangga-tetangga kita juga tidak punya pohon mangga.” Sambungnya sambil duduk di sofa dari bahan karpet warna coklat tua.

“Kelalawar mungkin.” Jawab Pak Sumarna singkat. Tangannya sudah memegang cangkir kopi yang masih panas. Ia pun meneguk kopinya dengan nikmat. “Tidak usah dibuat bingung dan dipusingkan, Bu. Aku kira ada masalah apa.” Lanjutnya. Cangkir kopi kembali ia letakan di atas meja di sisi koran.

Sejenak kemudian ia bangun dan melenggang ke pintu muka, melangkah ke arah teras rumah. Tangannya membenahi gulungan sarung yang sama gendutnya dengan perutnya. Sarungnya sedikit terangkat setengah betis. Pak Sumarna, rupanya secara diam-diam menyimpan rasa penasaran dengan informasi istrinya di pagi itu. Ia pun terheran-heran melihat biji-biji mangga dan mangga-mangga busuk yang berserakan di halaman rumah. Dan tidak mungkin kelalawar yang membuangnya. Mungkinkah ada orang yang sengaja membuangnya?

***

Sudah tiga hari ini, Ibu Pariah dan Pak Sumarna dibuat pusing. Mangga-mangga busuk dan biji-bijinya selalu mengganggu keduanya tiap pagi. Setiap hari jumlah bertambah banyak. Semakin memenuhi bagian sudut halaman rumahnya. 

Menginjak hari keempat dan kelima, tidak saja mangga-mangga busuk dan biji-bijinya yang berserakan. Sekarang ada belatung-belatung yang keluar dari mangga-mangga busuk itu. Tidak mungkin mangga-mangga sebusuk itu baru dipetik dari pohon-pohonnya. Mangga-mangga dan biji-bijinya sekarang menjadi teror yang membuat saudagar tengkulak desa Jaya Makmur kebingungan dan resah.

“Aaaawwww…. Tidak!”

Glek, Pak Sumarna terbatuk batuk, tersedak kopi pahit yang selalu membuatnya dapat menikmati indahnya pagi. Jeritan Bu Pariah dari halaman rumah membuatnya tersontak kaget. “Ada apa lagi, sih Ibu?”

“Itu, Pak. Itu lho. Kemari. Itu lho. Di halaman rumah.” Ibu Pariah setengah berlari dan melompat ke atas sofa sambil tergagap gagap. Seperti orang yang baru melihat hantu.

“Apa? Biji-biji mangga lagi? Kenapa sih repot banget dengan biji-biji mangga. Tinggal disapu, selesai. Tidak usah membuatmu takut.” Kali ini Pak Sumarna jengkel. Tidak saja mangga-mangga busuk dan biji-bijinya yang membuatnya pusing. Kini tingkah laku istrinya yang semakin kalap dari hari-hari sebelumnya.

“Tidak pak. Ini berbeda. bukan cuma mangga-mangga dan biji-bijinya tapi hiiiiihhh.....belatung Pak, belatung.”

Pak Sumarna pun bangkit dari tempat duduknya dan penuh kesal yang tidak tahu kepada siapa ia harus marah. Ia pun keluar rumah dan memeriksa mangga-mangga dan biji-bijinya yang katanya mulai mengeluarkan belatung. “Tidak. Ini bukan kerjaan kelalawar. Ini teror.” Pikirnya.

*** 

Memasuki hari keenam dan ketujuh, tidak saja pagi. Tapi sekarang Pak Sumarna menjadi gusar di malam hari. Ia merasa diteror, dihantui. dan terancam walau pun ia sudah membayar pembantu-pembantunya berjaga di rumahnya dengan perintah menangkap siapa saja yang dicurigai melakukan teror di halaman rumahnya. Hasilnya tetap sia-sia.

Sekarang malam ketujuh. Dan Pak Sumarna masih terjaga sampai pukul 02.30 dini hari. Mungkin sampai pagi. Sampai ia dapat menangkap pelaku teror. Dia tidak menginginkan teror ini berlanjut ke hari kedelapan, Sembilan, sepuluh dan seterusnya. Cukup. Sampai hari ketujuh saja.

Kesadarannya mulai setengah. Sesekali ia termanggut manggut di sofa. Matanya mulai lengket. Antara sadar dan tidak. Ia melihat ada bayangan orang yang berdiri di pintu halan rumah. Pak Sumarna pun dengan sedikit limbung, berlari mengejar bayangan seorang lelaki tua. 

“Hei… Berhenti! Siapa kamu? Kamu rupanya pelaku teror mangga busuk di rumahku! Apa maumu, apa salahku?” Pak Sumarna menceracau menghardik bayangan lelaki tua itu yang tidak bergeming sedikit pun.

“Setiap kita adalah orang-orang yang dibuat lupa oleh kesombongan dan kerakusan. Mata kita tidak bisa melihat dosa sebagai dosa, kecuali kekeliruan dan kekhilafan. Bahkan menganggap semua itu adalah benar atas nama orang yang berhak.” Suaranya datar dan tenang sedikit parau, lelaki tua itu masih tetap tidak bergeming membelakangi Pak Sumarna. 

“Hei. Kau lelaki tua, jangan berkhutbah di depanku. Hadapkan wajahmu kepadaku agar aku bisa mengetahui siapa kamu dan orang mana kamu sampai tak mengenali siapa aku. Aku Sumarna juragan tengkulak terkaya di Jaya Makmur.”

Lelaki tua pun menolehkan wajahnya ke arah Pak Sumarna. Dan tiba-tiba ada cahaya putih memancar dari wajahnya membuat silau pandangan Pak Sumarna. Pak Sumarna pun dibuat kaget, kemudian hilang kesadarannya. Tiba-tiba saja ia melihat orang-orang berebut mangga matang dari satu pohon yang tepat berdiri di garis batas tanah miliknya dan seorang petani miskin. Pak Sumarna datang memotong pohon mangga itu dan orang-orang melemparinya dengan mangga-mangga yang mereka petik.

“Engkau telah mengambil sesuatu yang bukan hakmu. Apa-apa yang tumbuh di atas tanah tanpa kau tanam adalah milik Allah. Garis tanah batas milikmu dan milik orang lain adalah milik Allah. Yang tumbuh di atasnya menjadi milik Allah agar orang-orang mengambil manfaat darinya. Dan engkau telah dibutakan oleh kebusukan hatimu yang sombong dan rakus.”

Sesaat kemudian petir pun menyalak. Membelah langit yang hitam. Mata Pak Sumarna terbelalak oleh kilau kilatan petir yang menyala-nyala. Seperti menyambarnya. Dan ia pun kembali tersadar. Tiba-tiba orang tua itu menghilang dari depannya. Tanpa jejak. Entah siapa dan entah kemana ia pergi. Mangga-mangga busuk yang ditinggalkan lelaki tua itu pun berserakan memenuhi halaman rumahnya dan mengeluarkan belatung-belatung dan bau bacin. Merayap ke kaki Pak Sumarna. Ke teras rumah dan ke semua sudut halaman rumahnya. Pak Sumarna masih terbingung bingung “Khidirkah Dia yang datang kepadaku?” Ia bergumam sambil tetap terpagut di halaman rumahnya.

Serang, 20 Desember 2019.

Tentang Penulis:
Farhan Fuadi, penulis yang mengasuh Pesantren Turats Islam-Bhakti Banten adalah alumnus Pondok Modern Daar el Istiqomah Serang-Banten, dan Jurusan Filsafat Agama UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten Serang, anggota Komunitas Sastra Gunung Karang – Pandeglang. Puisi-puisinya dimuat dalam antologi bersama Komunitas Penulis Tepi Rumah Seribu Jendela (Yogyakarta: CV. Intishar Publishing, 2017). Sepasang Camar (Lampung: Perahu Literasi, 2018) ditulis bersama komunitas sastra Silaturahim Masyarakat Lampung dan Banten (Simalaba). Beberapa judul cerpennya dipublikasikan di Majalah Mutiara Banten, media online Simalaba. Kini tengah mempersiapkan penerbitan Antologi Cerpen Anti Korupsi.

Tidak ada komentar