HEADLINE

MENUNGGU JAWABAN _Puisi Puisi Aang MZ (Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 4 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi media Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) 
kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI. Program ini untuk memberi ruang bagi sahabat pemula Dalam dunia sastra agar tetap semangat berkarya (Belum berhonor)
Redaksi berhak menyunting naskah yang masuk tanpa mengurangi maksud dan isi dari tulisan.


MENUNGGU JAWABAN 

;Putri raja
Sudah lama menahan rindu
Yang usang terpendam
Pada rembulanmu yang indah bagiku

Hitam manis kulitmu membuatku jadi pecandu 
Pada tubuhmu yang sahdu 
Segala resah hilang begitu dalam 
Menjelma banyangan 
Gairahku bertunas darimu
Sehingga terlena-lena dengan kebijakanmu

Jika rindu di ranting tubuhku bisa ditimbang akan kulakukan
Biar kau tau padamu aku merindu
Senyum ranum di bibirmu terkatung-katung di mahkotaku
Yang semakin membara hingga menjadi pelipur lara

Wahai rembulanku
Di sinilah aku ingin mengatakan cinta lewat sajakku
Sebab mencintaimu adalah sufi
Bisakah engkau  menjadi kekasihku?
Kini aku hanya mengharap jawabanmu
Yang selaras dengan sajakku
serta menanti seluruh tubuhmu berpolitik pada tubuhku

Annuqaya , 2019.



BOLEHKAH AKU MENGENALMU


Wahai wanita bercadar
Aku ingin bertaaruf deganmu, lewat puisiku yang setengah bisu
Kalimat pertama hanya ini untukmu:
Siapa namamu? 
Sebab pertemuan kita yang sama-sama menatap kelopak mata
Di perahu yang sebadan
Hanya menyisahkan bayangan
Sebab kita tak bisa mengulangi kejadian yang semula

Aku masih ingat dengan pakaianmu
Yang berwarna
biru-merah

Setelah sampai di ambang pintu dermaga
Di situlah perpisahan dimulai
Hanya bayanganmu bersama di asaku
Sampai ke tangkai pekarangan

Sore telah tiba
Bayanganmu semakin membara
Di saat senja ingin 
Menjadi kunang-kunang
Di situlah wajahmu bagai buih keindahan
Hingga menjadi beribu-ribu penasaran
Karena kita tak saling mengenal.

2019.


HARAPANKU  YANG  HILANG

Aku begitu kagum padamu
Ketika batin kerap membangun
Istana surga di palung dadamu
Entah kenapa engkau membantah dengan cara berlari
Sehingga aku tak dapat melihatmu lagi
Yang merangkul pelangi
Di tenda purnama yang kau miliki

Mengapa engkau menjalani perihal itu?
:biar tau penyebab ke pergianmu.

2019.


MENUNGGU  KEDATANGANMU

Melihat kota pada kidul
Tak bisa dipandang
Kerlap-kerlip suluh bintang
Pada sudut perumahan
Yang bisa dipandang di malam petang
Di ambang batas dermaga yang jadi saksi bisu 
Pada perihal itu

Desir angin terasa dingin
Pada tubuh yang kaku
Sebab sinarrnu tak menyinari kegelapan

Namun hanyalah bayangan rembulanmu
Datang menyeruap ketidak pastian
Hingga menjadi resah-gelisah

Asa bisa melintas sekejap mata
Membawamu ke samudra mahkota
Tapi sanubari tak bisa melintas sedemikian rupa
Melainkan hari-perhari ingin bersua
Jika sanubari sekejap mata melintas seperti asa
Maka takkan ada kerinduan di pelupuk batinku yang baka

Kasih, kembalilah pada satu saat ke benihmu
Sebab aku sudah menanti pada kehadiranmu
Akan kutunggu kedatanganmu di dermaga layu
Dengan diam bukan berarti bisu
Tapi kedatanganmu akan menjadi kebahagiaanku
Yang hakiki saban waktu.

2019.


KE  BATAVIA

Berlayarlah aku
Ke Batavia untuk mencapai hakikat rindu
Dalam kebahagiaanku “kata ibu”

Aku jalani perintah ibu
Meski angin,badai dan panas menampar batin yang ambigu
Di situlah aku tabah di samudra biru
Untuk sampai pada perintah ibu

Namun kian sampai ke muara
Aku hengkang di pelabuhan karang
Yang penuh caci maki oleh orang

Di sanalah aku menangis darah
Yang menjadikan perintah ibu tak searah.

2019.


SALING  MENGENAL, MENYAPA  LEWAT  SENYUMAN
; adinda

Padahal kita saling mengenal nama dan makna
Antara 3th-2th kita mengenal
Namun ketika kita berpapasan pada kelopak mata
Dua mataku hingga menjadi empat mata
Di antara kita tak saling menyapa

Apakah kita sungkan untuk menyapa
Atau punya perasaan yang tidak bisa di\ungkapkan,
Jujur saja batih ini yang ingin berevolusi kerap untuk menyapa
Apalah daya lisanku tak bekuasa,
Karena takut tak ada respon dari lisanumu

Meskipun kamu tak menyapa
Namun engkau memberikan sesungging senyum manismu padaku
Membuatku tak jemu
Sebab senyum ranum bibirmu bermuara dari istana surga
Hingga tercipta ayat-ayat suci di rahim puisi.

2019.


DI PANTAI

Malam semakin rembulan
Aku di bibir pantai
Bersama perahu lumpuh,
Semilir angin mengajakku
Berdansa dengan riak gelombang yang riuh dan gemuruh
Sehingga akupun berteduh
Pada kegigilan yang berseduh.

2019.


PERJALANANKU


Dari sumber mengalir
Hingga jadi hilir
Namun di pertengahan hilir
Ada keindahan yang tersumbat ke kolapak mata yang sayu
Hingga seketika membeku

Setelah lindap
Akhirnya mengalir lagi
Bersama sisa ke kelopak mata
Sampai ke pekarangan samudra.

2019.

Tentang Penulis :

Aang MZLahir di pulau Gili Raja Sumenep.Alumni  Nurul Huda II, Dan Sekarang  Nyantri di PP. Annuqayah daerah lubangsa selatan.Antologi puisinya adalah Rahasiarasa (2019), Penantian (2019), Penaartas (2019). Kiniaktif di Sanggar Basmalah.

Tidak ada komentar