HEADLINE

Sajak Sengat Ibrahim _KAMPUNG HALAMAN BAGI LIA

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU:  EDISI 6 2018
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya puisi untuk dibuat konten video)
Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)

(klik untuk menonton video puisi)


KAMPUNG HALAMAN BAGI LIA 

1/
Aku menikmati malam
Dengan secangkir kopi kopasus
Kerlap-kerlip lampu memancar
Di langit-langit warung pincuk
Di luar hujan dan malam menghapus
Semua jejak sampai bumi kembali kudus

Tetapi mampukah hujan dan malam
Menghapus segala kenangan dalam pikiran
Seperti menghapus nama tokoh-tokoh pahlawan
Dari sejarah perjuangan kemerdekaan
Sewaktu pribumi melawan japan?

2/
Aku menyalakan rokok
Sambil tertawa pada pikiranku sendiri
Menenggelamkan sepi pada puisi
Mengingat segala peristiwa yang terjadi
Maupun peristiwa yang gagal terjadi hari ini

Tiba-tiba dunia dalam ponsel  berbunyi
Membawa suara Bryan Adam dalam lagu Heaven
Di layar ponsel tertera nama Lia
Aku menolak panggilan telepon darinya
Sebab berbicara di warung kopi
Belum menjadi peristiwa yang biasa di sini.

3/
Akhirnya kami mengobrol di ruangan Whatsapp
Lia memang pintar menyusun bahasa menjadi benda pusaka
Yang menyimapan kesaktian luar biasa
Seperti keris Koko-macan kepunyaan paman di Madura
Yang selalu diwarangi  kembang tujuh rupa
Setiap malam jumat klewon

Beberapa saat setelah Lia tahu
Kalau bahasa cinta yang kukirim terasa kaku
Lia terus-menerus mengirimiku pesan icon kepala
Kepala yang bermulut hanya bisa dipakai untuk tertawa
Aku ikut tertawa pada icon kepala berwarna kuning itu
Dan membalas dengan pesan i love you.

4/
Pembicaraan kami terbuat dari segala peristiwa
Yang mudah menjadi penting juga genting, semisal:
Jawab dengan cepat apa saja
Yang Lia ketahui tentang kampung halaman?
Lia menjawab;
Segala sesuatu yang tak pernah selesai berbica dalam dada
Padahal dia tak pernah belajar bagaimana caranya berbicara
Atau segala jalan bercabang yang hanya menuju kata pulang
Seperti kepulangan Akang dari perantauan tapi entah kapan.

Lalu, Lia bertanya balik dengan pertanyaan yang sama
Aku menjawab dengan lebih ringkas dan cepat darinya;
Lia-lah kampung halaman bagi Akang.
Setelah itu percakapan kami
Menyusun tubuhnya dalam puisi
Seperti para pahlawan 45 menyusun ini negeri
Yang menjadi lumbung bagi segala macam korupsi.

Minggu malam, 26 November 2017, Yogyakarta

SURAT CINTA PERTAMA

Lia, cinta adalah indentitas kedua bagi manusia setelah agama
Aku memilihmu sebagai penyempurna bagi keduanya.

Sabtu dini hari, 25 November 2017, Yogyakarta

SURAT CINTA KEDUA 

Lia, aku suka melakukan pekerjaan
Yang tak pernah selesai seperti mencintaimu.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

SURAT CINTA KETIGA 

Lia, setelah mengenalmu aku menjadi seseorang
Yang terlalu percaya pada kesedihan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

SURAT CINTA KEEMPAT

Lia, aku masih takut pulang
Sebab orang-orang di rumah tidak pernah menanyakan
Apa yang telah kulakukan bersama puisi di kota perantauan
Itu bagiku sama saja dengan penghinaan

Lia, aku masih takut pulang sayang
Sebab takut adalah cara lelaki mencintai seseorang.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

SURAT CINTA KELIMA

Lia, jika aku menulis puisi cinta
Kemudian kau baca berulang-ulang
Tapi tidak kunjung paham
Berarti kau bukan orang
Yang kumaksud dalam tulisan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

SURAT CINTA KEENAM

Lia, kata-kata adalah sumpah juga sampah yang akan selalu gagal punah
Selama makhluk yang merasa punya perasaan tuhan ciptakan.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta

SURAT CINTA KETUJUH

Lia, seperti sebuah musik yang tak pernah lelah diputar
Aku menunggumu di tepi siang yang lengang
Di sebuah  kota yang musimnya tak ditentukan
Hujan dan matahari tetapi oleh mesin

Aku berlindung pada sepi tapi sepi sudah tak tercipta lagi
Setelah kau tak di sini.

Sabtu dini hari 25 November 2017, Yogyakarta


Tentang Penulis



Sengat Ibrahim, Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek, tinggal di Yogyakarta. Buku puisi pertamanya  diterbitkan oleh penerbit Basa-Basi berjudul: Bertuhan pada Bahasa. Sekarang sedang sibuk menyiapkan buku kumpulan puisi kedua bertajuk: Dialog Bolong. Karya-karyanya pernah dimuat di koran; Media Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Minggu Pagi, Merapi, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Harian Rakyat Sultra, Lombok Post, Medan Ekspres, Harian Rakyat Sumbar, Majalah Simalaba, dan Malangvoice, Litera.Co, LiniFiksi.Com. PoCer.co 

Tidak ada komentar