HEADLINE

Sajak Sajak Humam S Khudori_TENTANG PEREMPUAN

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU:  EDISI 3 2018
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya puisi untuk dibuat konten video)
Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)


klk video di bawah ini untuk menonton


RATNA

jaring yang kau tebar sungguh kuat
boleh jadi rumah laba-laba sebagai ibarat 
kuat membelenggu jiwa hingga sekarat
tak kuasa lepas aku dari jerat maksiat

hidup menjadi sekedar pelarian
dan tak pernah memiliki cita-cita
layaknya manusia seumpama
yang masih  normal nuraninya

***

ZULFA

andai kau tak menyolok mata
aku tak pernah pamer kesombongan
yang membuat lelah
pada tubuh yang makin rapuh
karena hidup dibikin alpa
oleh cita-cita mulia

***

WIWIN

andaikata tak melihat Tuhan
dalam dirimu yang biasa
dan tak istimewa
mungkin aku masih terlunta

jika Dia tak membisiki sesuatu
pada hati nuraniku
atau senantiasa mengingatkan
pasti aku memilih hidup di hutan

hidup memang sebatas berperan
dan kita tak bisa memilih peran
kendati  selalu diperjuangkan
dengan keringat yang jumpalitan

pada akhirnya kita pasrah
bukan berarti menyerah
tetapi setiap manusia
akan jalani peran sesuai skenario-Nya.

***

CHITRA

kau yang menyodorkan 
makna ketakutan
hadapi persaingan hidup 
padahal untuk survive
perlu perjuangan
tapi setelah kenal kamu
prinsip itu seperti tak berlaku.

***

KARTI

ada selaksa cara
menuntaskan kekaguman
pada ciptaan tuhan
dengan kasih sayang 

ada seribu cara
mengabadikan keindahan
yang diukir tuhan
pada tubuh wanita

ada seratus cara
menyadarkan cinta sejati
yang tak mati-mati
tulis berpuluh puisi

ada satu cara
melupakan dirimu
panggil malakul maut
tetapi aku masih takut

***

SISKA

jilbab polos warna maron
bungkus wajah gadis cirebon
diiringi irama  murrotal
bangkitkan semangat 
cinta pada tuhan
tapi tak kuasa 
kujalani di alam nyata

***

RINI

persoalannya menjadi rumit
karena jalan yang beda
padahal tak ada yang sulit
jika ukuran yang dipakai sama

dan luka-luka itu menganga
menjadi segudang kesalahan
yang berkepanjangan
koreng bertumpuk di gudang
jiwa dan pikiran

tidak terpikir setitik dosa
akan menjadi problema
di alam selanjutnya
yang kualami
hingga kini

***

LIES

jarak kita terlalu jauh
seperti langit dan bumi
tak mungkin kita berlabuh
atau berumah di matahari

kekagumanku pada kecantikan
juga kelembutan sikap
dan kesantunan budi pekerti
adalah zikirku pada Tuhan

***

DIANA

ini hanya sebuah angan-angan
dalam khayal seorang pemuda
saat menerka-nerka
paras mungil tanpa dosa
adalah sepucuk hidung kecil
yang menghiasi wajah ayu

***

DEWI

membuatku memahami persahabatan
tanpa lelah kau jahit sisi-sisi perbedaan
sebelum kutahu arti cinta sederhana
dan perjalanan waktu menjadi fana

***

SYAMSIAH

kacamatamu adalah cermin
bagi ragaku nan gersang
kebanggaan seorang pelajar
dalam jiwa yang kian rapuh
kau berusaha terus menyepuh
bukan dengan emas atau perak
tetapi lewat selembar keikhlasan
serta semangat yang terserak

sekian puluh tahun berlalu
kita tak pernah bertemu
dan kau tak pernah mengubah
jiwa kekanakan, sikap polos
seorang gadis desa
seperti saat kita masih duduk di sma

***

HAFSHAH

ceriamu tak pernah lekang
meski hidup terkekang
dalam bingkai kehidupan
yang cadas penuh retakan

riangmu nan lucu
selalu terlukis di hatiku
tak kenal waktu
saat girang. pun saat sendu

***


Tentang Penulis


Humam S. Chudori, 12 Desember 1958,  di Pekalongan. Penerima bea siswa dari Gubernur Jawa Tengah ini, setelah lulus dari SMEA Negeri (1977), Pekalongan hijrah ke Jakarta. 

Berbagai pendidikan non formal diikutinya, a.l: Mengetik, Tatabuku A-1, A-2, Administrasi Perusahaan Modern A-B, Bahasa Inggris, Dasar-dasar manajemen umum, Dasar-dasar Manajemen Keuangan, dll. Pada tahun 1982, ia meneruskan sekolah ke STP (kini IISIP). Mengambil jurusan jurnalistik.

Ia baru berani memublikasikan tulisannya di media cetak pada tahun yang sama. Sejak itu pelbagai tulisannya – cerpen, puisi, artikel perkawinan, masalah sosial, kebudayaan, film, televisi, Musik,  ekonomi, agama, anak-anak, dll –tersebar di media cetak (pusat dan daerah). Namun, sejak tahun 2000  ia  memilih penulisan fiksi (cerpen, puisi, dan Novel).  

Keseriusannya menulis fiksi, membuat namanya tercantum dalam Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern Edisi Baru susunan Pamusuk Eneste (Djambatan, 1990) dan Leksikon Sastra Jakarta – Sastrawan Jakarta dan Sekitarnya (DKJ dan Bentang Budaya, 2003), Apa Siapa Penyair Indonesia,  serta sejumlah Leksikon susastra terbitan penerbit lainnya.

Buku Kumpulan cerpennya : Rumah Yang Berkabung (1984), Empat Melongok Dunia     (1986), Dua Dunia (2005), Barangkali Tuhan Sedang Mengadili Kita (2005), Percakapan Malam Hari (2005), Novelnya: Bukan Hak Manusia (2007), *) Sepiring Nasi Garam **) (2007), Ghuffron (2008), Shobrun Jamil (2010), Rezeki (2016) Novel Anak: Berlibur di Desa (2010) Kumpulan puisi Perjalanan Seribu Airmata (2013). Antologi cerpen – temu sastra Jakarta, Kota yang Bernama dan Tak Bernama (2003). Catatan Perjalanan KSI, (2008) Sajaknya, selain dimuat di media cetak(pusat dan daerah) juga terhimpun dalam sejumlah buku antologi Puisi: Sketsa Sastra Indonesia, Trotoar, Resonansi Indonesia (dwi bahasa Indonesia – Mandarin), Antologi Puisi Indonesia 1997, Menatap Publik, Senandung Wareng di Ujung Benteng,  Jakarta dalam Puisi Mutakhir, Mengalir di Oase. Tifa Nusantara 2, Gelombang Maritim, Ije Jela, Seratus Puisi Qurani 2016, Matahari Cinta Samudera Kata, Kejernihan Cinta, Sail Cimanuk, 1550 Mdpl Kopi, Batik Si Jelita, Buitenzorg, Jejak Kata, dll. Bukunya yang lain; Membuat Tempat Tidur Sehat, (1995) Membuat Kerajinan Tripleks, (1995) Liku-liku Perkawinan (1993, edisi revisi, 1997). Modul Mendongeng dan Menulis Kreatif – ditulis bersama Gito Waluyo – (2015).

Humam S. Chudori tinggal di kompleks Perumahan Pondok Maharta, Blok B-22 No. 7, Pondok Kacang Timur, Tangerang Selatan – 15226.

Tidak ada komentar