HEADLINE

Sajak Sajak Eddy Pranata PNP _OKTOBER DAN TANGIS LANGIT

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU:  EDISI 4 2018
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya puisi untuk dibuat konten video)
Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)


klik video di bawah ini untuk menonton



OKTOBER DAN TANGIS LANGIT

Oktober bergulir basah. Di Baturaden banjir bandang.
Sungai Logawa dan sungai-sungai lainnya meluap.
Menyeret rinduku ke ranah Minang yang beku.
Dibawanya sebagian mimpiku dan juga mimpimu,
hingga ke laut. Tapi engkau hanya bisa berteriak
ketika Gunung Slamet berduka. Sesekali engkau
juga bersin-bersin dan menulis puisi.
Puisi yang New, yang sesuka-suka perut dan udelmu.

Anehnya, orang-orang malah memujimu hingga
ke langit delapan. Langit yang entah ada entah tidak.
Yang penting ngopi, katamu, yang penting hepi.

Kembali ke Oktober yang bergulir basah.
Dan langit yang seolah-olah menangis.
Membasahi desaku. Beberapa sahabatku yang
memelihara kambing, ya selalu berhujan mencari
daun pakan kambing. Mereka hepi-hepi saja.
Sebab mereka tahu kalau Oktober dan Tangis Langit,
adalah puisi New yang asal-asalan saja.

Jadi mudah kan nulis puisi itu?
Kawan-kawanku mengangguk-angguk,
hanya sebagian kecil yang tersenyum sinis...

Jaspinka, 17 Oktober 2017

HIKAYAT SEPRINCUK CENIL

Udara terasa gerah. Mendung yang menggantung sirna sudah.
Hujan tidak jadi turun. Azan Isya baru selesai berkumandang.
Angin tiada berdesah. Suara jangkrik terdengar seperti resah
dari tanah kosong sebelah selatan rumah. Ou, sungai kecil
mengalir membawa Hikayat Seprincuk Cenil warna merah.

Seprincuk Cenil? Masa kecil berpuluh tahun silam,
begitu senangnya bisa jajan seprincuk cenil.

Malam merambat perlahan. Apakah seprincuk cenil?
Seprincuk adalah seporsi tempat yang terbuat dari daun pisang.
Cenil, adalah makanan atau jajanan yang terbuat dari aci
(tepung singkong) dikukus, ukurannya petak kecil sebesar
ujung ibu jari orang dewasa. Di atasnya ditaburi parutan kelapa
dan gula pasir. Kenyal-kenyal manis. Pokoknya rasa khas cenillah.
Dulu bisa dibeli di warung mBok Darpen dekat pasar Wage Cirebah.

Ou, apakah rindumu seperti Hikayat Seprincuk Cenil?
Yang sekarang nyaris tinggal kenangan?

Ah, kumau tak seorang pun melupakan Seprincuk Cenil. Tidak juga kau!

Weh, weh, ciah!

Jaspinka, 23 Oktober 2017

MENJADI PENYAIR GAMPANG

Orang bertubuh kerempeng itu memungut embun pagi
dengan tangan puisinya. Tangan puisinya bersalaman dengan banyak
penyair senior. Lalu ngalor ngidul menghadiri acara sastra.
Sambil sesekali bila senja atau malam ada imaji apa pun ia
coretkan jadi puisi new.

Penampilan dan kebiasaan harus sedikit dirubah, pikirnya,
penampilan harus nyentrik, bila perlu pakai sarung
ke mana pun pergi. Harus suka minum kopi.
Dan satu hal yang tidak boleh tidak,
harus berani tampil di atas panggung
.
Orang bertubuh kerempeng itu mengisap rokoknya.
Matanya terpejam. Ia seolah tengah memasuki
labirin senja. Labirin yang penuh kata-kata yang liar.
Dan ia ingin sekali menangkapnya. Ou, kata-kata
yang liar dalam labirin senja.

Ia sungguh bangga sekaligus terharu ketika tahu,
namanya masuk ke dalam buku Apa dan Siapa Penyair
di lingkungan RTnya.

Ciah!

Jaspinka, 22 Oktober 2017

TEKA-TEKI SILANG NGAPAK

Mendatar:
Priwe deneng andhingwingi kali nang Praketa padha banjir.
Anu kenang apa jajal?

Menurun:
Kembang duren arane apa?

Bagi yang gak ngerti bahasa Ngapak tidak diharuskan menjawab
Teka-teki Silang dalam Puisi Bebas Terjun alias
Puisi Sakarepe Inyong ini. Silakan mencari Teka-teki Silang
dalam puisi yang bahasanya bisa dipahami, oke?

Bagi yang bisa menjawab, silakan dikirim via inbox.
Hadiahnya berupa seekor kambing akan diundi sepekan lagi.
Dan hari-hari terus bergulir. Kadang hujan, kadang terang.
Seminggu kemudian ternyata jawaban yang masuk
tidak satu pun yang benar.

Hadiah seekor kambing masih disimpan.

Jaspinka, 21 Oktober 2017

SERIBU KUNANG-KUNANG BERSAYAP PELANGI

Aku kecup kata-kata penyair. Baunya apek dan anyir.
Tapi biarlah, aku sudah terlanjur jatuh hati.
Tapi jatuh hati yang bebas terjun atau sakarepe inyong. Haaaa...

Oleh karena itu, yang bukan penyair hayuh
ramai-ramai ambil bagian. Nulis puisi bebas terjun
atau sakarepe inyong. Puisi new. New seenak udel.
Tetapi, eh, siapa tahu nasibnya mujur.
Bisa menangkap seribu kunang-kunang bersayap pelangi,
ketika gerimis jatuh di pengujung malam.

Untuk apakah seribu kunang-kunang bersayap pelangi?
Ya, barangkali bisa membuat hidup menjadi happy!

Jaspinka, 20 Oktober 2017

TUSUK ONDHOL SINGKONG

Hari Kamis Pahing belum begitu siang,
ketika itu hampir pukul 09.00 WIB. Kang Kaslum membawa
makanan khas ndesaku: Ondhol Singkong yang dibuat istrinya;
mBekayu Kasiyem. Masih kemebul. Anget sekali.
Ada lima tusuk ondhol singkong dihadiahkan untukku.
Aku berterima kasih sekali, karena rezeki pagi datang.

Tapi ngomong-ngomong apakah kalian semua tahu
Ondhol Singkong? Ia terbuat dari singkong yang sudah direbus
atau dikukus lalu diulek-ulek hingga hancur.
Kemudian dibuat bundar-bundar sebesar bola pingpong
dan ditengah-tengahnya diberi gula jawa, lalu digoreng.
Nah jadilah itu ondhol singkong.
Enak, empuk, manis. Kadang bisa membuat semangat hidup.

Eiya, setelah ondhol itu digoreng, cara mengemasnya adalah
dengan cara menusuk ondhol itu dengan tusuk yang terbuat
dari bilah bambu, semacam tusuk sate, tapi lebih besar
sedikit. Lalu kenapa Puisi Bebas Terjun ini diberi judul
Tusuk Ondhol Singkong?
Sekadar mengingatkan saja; bahwa engkau, kekasihku,
saudaraku, sahabatku, kawan-kawanku-- kalau bisa
jangan bernasib seperti tusuk ondhol itu.
Lho, memangnya kenapa? Karena tusuk ondhol hanya
akan berguna ketika ondhol belum habis.
Setelah ondhol habis, tusuk itu ya akan dibuang,
dilemparkan ke tong sampah.
Apa mau dianggap tidak berguna dan dimasukkan
ke tong sampah? Jangan begitulah.

Hari Kamis Pahing belum begitu siang, ketika
Kang Kaslum mengantarkan lima tusuk ondhol singkong.
Aku berterima kasih sekali, karena perutku terganjal
oleh ondhol. Walau cukup minum air puith dari gogok.
Lho, tahu gogok? Gogok adalah tempat air minum yang
terbuat dari tanah liat. Kalau air minum dimasukkan ke
dalam gogok akan terasa adem dan ada nuansa khas.
Khas gogok!

Lima tusuk ondhol itu tidak aku habiskan.
Masih sisa dua tusuk. Aku minum air gogok dua gelas.
Alhamdulillah....
Jaspinka, 19 Oktober 2017

SIULAN TUKANG NDERES

Kemarin sore, aku lewat pegunungan karang Darmakradenan,
mengendarai sepeda motor, dan gerimis turun kian lebat.
Aku berhenti di gubuk pinggir jalan memasang jas hujan.
Saat itu, di depanku lewat seorang tukang nderes, ou,
bersiul-siul dalam hujan. Ia tidak memakai jas hujan.
Di pinggangnya ada tiga kaleng bekas cat tempat
penampung air nira. Padahal dulu itu, tempat penampung nira
adalah; pongkor, penampung yang terbuat dari bambu.
Tangan kirinya memegag arit. Sejenak ia berhenti
di depanku seraya melempar senyum.

Aku terus terang saja sungguh terkesiap dengan kehadiran
tukang nderes yang sama sekali di luar dugaanku.
Alhamduillah, senyumnya terlihat polos, dan sorot matanya
penuh cahaya. Dan tiba-tiba ia berkata kepadaku
dengan bahasa ngapak: "Den Bagus, urip jian mung kaya
mampir nginum nang warung pinggir dalan.
Ya mampir nginum karo mangan mendoan nyigit
lombok cengis! hahaha!"
Kang Tukang Nderes yang kira-kira berusia 54 tahun itu,
lalu beranjak pergi, berjalan sambil kembali bersiul-siul.

"Wit kelapa, priwe lah uripe nang gunung karang,
Aku ora papa, santai baelah, anu ora mbrungsang!"

Aku kamilegegen. Takjub. Terpesona. Dalam hujan,
Kang Tukang Nderes bekerja luar biasa. Naik turun
pohon kelapa yang tinggi-tinggi. Tentu lunyu (licin) sekali.
Entah sudah berapa tahun pekerjaan mulia itu dijalani.
Dilakoninya dengan siul yang tidak pernah berhenti.

Jaspinka, 23 Oktober 2017

SAYUR GENDHOT

Sawah di desaku masih cukup luas dan telah menghampar hijau.
Sudah empat bulan musim tanam. Langit sering mendung.
Hujan bisa turun sepanjang hari. Sepanjang malam.
Para petani senang padinya tumbuh subur.
Sering bermimpi panen raya.

Selain bermimpi para istri petani senang juga pergi ke sawah.
Selain udara segar. Ada yang membuat langkahnya semangat.
Apa ya? Gendhot. Apa itu gendhot, tuan penyair
suka-suka inyong? Gendhot adalah tumbuhan liar di sawah.
Tidak ditanam tetapi muncul dan tumbuh begitu saja.
Warnanya hijau, enaknya ditumis campur udang.

Dulu sekali, aku sering makan sayur gendhot nasi oyek
di rumah nenek. Rasanya pahit-pahit sedep.
“Seperti hidupmu yang pahit-pahit sedep,” ujar nenek,
setengah bercanda. “Tetapi kelak, masa depanmu bisa cemerlang
karena suka makan gendhot. Hahaha...”

Aku sekarang jadi pengin makan nasi oyek sayur gendhot.
Dan, aku ingat nenekku yang dulu suka menulis
geguritan walau asal-asalan.

Waru-waru dhoyong, dhoyong nang pinggir kali
Urip mung klayang kloyong, tetep nggolet senenge ati

Wakakakakak...

Jaspinka, 22 Oktober 2017

BREGEDEL TALES

Hidup bisa seperti Bregedel Tales, kata seorang sahabatku,
empuk gurih, enak-enak gaimana gitu. Apalagi kalau baru
diangkat dari kuali. Bisa sehangat rindu pada kekasih.
Tapi hati-hati ya, jangan makan bregedel tales
yang masih sangat panas. Lidahmu bisa gosong.
Lama lho sembuhnya.

Kembali ke Bregedel Tales, yang empuk-empuk gurih.
Apakah seperti hidupmu juga? Ah, masak sih,
hidupmu empuk-empuk gurih. Bukankah dirimu pernah
bilang, bahwa hidupmu, hanya serupa air yang mengalir
di comberan. Oh oh, ups! Hidupmu seperti air yang
mengalir bening membentur-bentur bebatuan,
tidak begitu jauh dari markas Jaspinka.

Bregedel Tales, ampun dech, aku rindu kamu.
Sangat rindu. Apalagi sekarang hujan tidak jua
kunjung berhenti. Aku mau dirimu, Bregedel Tales,
sini, ke sinilah. Di meja depanku sudah ada wedang jahe.

Ou, Kakang!
Ou, Mbekayu!
Ou, Bregedel Tales!
Aku rindu padamu...

Ciah!

Jaspinka, 21 Oktober 2017

TAHU BERONTAK

Dalam hujan deras pagi ini, seorang penyair{?}
yang tengah mengunyah tahu berontak, menatapku
dengan sorot mata yang liar. Dalam tahu berontak itu
ada irisan wortel, daun bawang, kubis, dan toge.
Tiga tahu berontak dikunyah dan ditelan dengan rakusnya.
Tiga cabe rawit menghiasi tahu berontak juga sudah
dikunyahnya. Aih, penyair (?) itu tersedak. Ciah!

Ia membayangkan tahu berontak itu adalah dunia kecil
yang terbentang di hadapannya sehari-hari.
Dunia yang penuh dengan tanda tanya dan hujan
sepanjang hari. Kalian boleh merasakan bagaimana
nikmatnya tahu berontak itu. Tetapi jangan sering-sering.
Karena tahu berontak bisa menjadi jiwamu
juga jadi seorang pemberontak.

Memberontak pada tahu yang dingin. Pada gerimis yang
kian melebat. Pada nasib hidup yang masih kurang jelas.
Jadi baiknya bagaimana? Ya terserah kalian saja.
Kalian boleh meniru penyair(?) itu. Makan tahu berontak
dengan cabe rawit. Atau boleh saja diam saja.
Menatap hujan yang turun pagi-pagi.

Aih, aih!

Jaspinka, 18 Oktober 2017


Tentang Penulis

Eddy Pranata PNP, sejak tahun 2004 lalu mengelola Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat, Indonesia.  Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla di  Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016), Abadi dalam Puisi (2017). Puisinya dipublikasikan di Horison, Jawa Pos, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos,  Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Radar Surabaya, Riau Realia, Flores Sastra, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Banjarmasin Pos, Suara NTB, Radar Banyuwangi, Solopos, Koran Madura, dan lain-lain.

Eddy Pranata tinggal di Cirebah RT.02/RW.08 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Tidak ada komentar