HEADLINE

Puisi Puisi Riduan Hamsyah _BANDUNG SUATU HARI

SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU:  EDISI 5 2018
Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 7 judul), Cerpen dan Cernak untuk dipublikasikan pada setiap sabtu malam. Kirim karyamu ke e-mail: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SEMARAK SASTRA MALAM MINGGU. (Berhonor dan akan diambil satu karya puisi untuk dibuat konten video)
Redaksi juga menerima tulisan untuk diterbitkan setiap hari (selain malam minggu), kirim karyamu ke e-mai: majalahsimalaba@gmail.com, beri subjek SASTRA SETIAP HARI. (Belum berhonor)


(Silahkan klik video puisi di atas untuk menonton)

BANDUNG SUATU HARI

Di kota ini
aku merasakan hidup
seperti sebuah
tayangan ulang, sebuah slide
yang sudah begitu biasa
dengan kemacetan-

juga semalam
terhenyak
usai menolak empat perempuan
yang
menawarkan jasa kenyamanan.

Hai, kenyamanan, sepertinya
menjadi sesuatu
yang dicari banyak orang
setiap malam
sepanjang pagi
menemani hari hari lunglai
dengan rasa senyap berkecamuk.

Orang orang mencari sudut
untuk mengabadikan
kenyamanan yang perlahan telah
menjadi tugu itu
ke layar ponsel, menyimpannya
dalam memory card
agar tidur nyenyak bersama virus.

Sungguh, aku benar benar
terhenyak
setelah menyelipkan uang tip
ke lipatan tangan seorang perempuan
yang lebih dewasa
di belakangnya menguntit
tiga pilihan yang selalu saja ikhlas diterkam
ya, kota ini menyuguhkan
cukup banyak pilihan
: menyerah pada rasa yang aneh
atau
menyelamatkan kesendirian

Bandung, 07012018


MELIPAT RENCANA PULANG

Ada rencana
yang kembali dilipat
kembali jadi
dentuman

Lampung Barat, 18122017

 

JAKARTA SUATU MALAM

Ada kabut
menyelimutimu,
tipis
bahkan nyaris tak dapat kutangkap
dengan pandangan.
Milyaran kunangkunang
menari di ketinggian
warnanya tidak cuma biru
tetapi juga merah
yang
nyala sepanjang malam.

dimana sebenarnya tempat
orang orang tertidur, merebahkan matahari
siang tadi
merebahkan kemungkinan-kemungkinan
yang terlanjur dilumuri bahan bakar.

Pintu-pintu tol menganga
mall mall, dan semua mesin pencari uang,
terus saja meraung
membahana ke semua sudut
dimana tak ada lagi orang menyimpan
rasa takut-

sebab kota ini telah melupakan
dipan kayu tempat berbaringnya dulu
sejak sekumpulan pelacur
berganti ganti aroma farpum, sejak
debu menguas daun pepohonan tinggi di sini.
Pepohonan yang kulitnya
terbuat dari granit
dan kaca tebal yang
memantulkan bayangan keabadian-

tetapi keabadian itu
tengah diprogram oleh orang orang pintar
dalam rekayasa komputer
berbasis incode. Agar orang orang
di sini
terhindar dari renggutan nyamuk
yang menghisap ruhnya
itu sebab kota ini lupa tidur
dan entah kapan terakhir bermimpi.

Di sampingku orang orang diam
denga ide ide gila di kepalanya-
sama, seperti kota ini, mereka jarang tidur
dan selalu menyala sepanjang malam.

Jakarta, 07012018

BANTEN KETIKA MALAM

Sebelum tidur,
aku memberimu butir-butir ajaib ini-
temaram cahya lampu, warna warni
kota yang kita ciptakan dari
sekelumit perasaan
juga cinta
pada semesta, pada ruang lain
tersusun dalam diri kita.

Aku tau, engkau tidak akan lelap
saat aku jauh bermimpi,
tarianmu mengitari dunia kaca
dunia persegi entah kulihat pandangi
dari sudut-sudut yang kadang berkecamuk
kadang pula diam yang stabil.

Esok, bila ada sedikit waktu, hari tersisa
dari sekian sesak menyita
aku ingin menyemai biji rumput
pada bebatuan hitam, yang lembab
sebab
menurut seseorang kemarin
aku harus banyak belajar menciptakan
kemungkinan lain
menyematkan hidup yang sibuk ini
pada bening yang hening.

Ay, tetapi, mungkin pula
esok ada cara baru buat kita
duduk satu meja
berhadap hadapan dengan hati yang dingin
menikmati udara turun naik di lembah
kesejukan yang menjalar pada urat-urat tubuh kita-
saat itu, sekencang kencangnya, akan kuteriakkan
: hikayata kebebasan

Baros, 24012018


LAMPUNG MALAM HARI

Aku datang ke sini
untuk
saat musim hujan baru dimulai, langit gemulai
mencipratkan mendung ke sudut-
sudut wilayah.

Pada pekon sebelum Liwa
pada gerbang batas pesawaran,
Trimurjo, Simbar Waringin
angin menjawab dengan bisu.

(Tuan, aku pulang, setelah
berhari hari tualang
bersimpang simpang hasrat menyelam
dan hapal benar letak pelabuhan)

kemudian bertanya
ke sana sini, adakah riwayat
kemerdekaan itu? diantara sunyi sajak
yang mengendap
di keriuhan orang yang pura pura bahagia
di lipatan wajah gelisah
di kelam langit malam hari, bila bertemu nanti
akan kusampaikan
betapa cemar alam ini oleh teriakan keletihannya.

Metro, 20122017


DI SINI ANGIN MASIH SEJUK

Di sini angin masih sejuk
rumput rumput
diliput embun, tempat
kedamaian bermain bersama suara kekanak
melompat lompat di halaman
berkejar kejaran.

Sampai kapan kedamaian itu
bisa kita pelihara?
Bila separuh tubuh masih dinaungi
hasrat bertikai
sementara separuh lainnya tenggelam
dalam resah berkepanjangan.

Aku tidak mungkin
membuat sajak
yang lebih berat dari ini,
seberat tubuh yang menggelinding
dari kota ke kota
dari kamar ke kamar perempuan-
menanti
di sudut gamang kerinduan.

Dalam pelukannya aku ingin
tidur lebih nyenyak
berkelana lebih jauh lagi, hingga lupa
jalan ke muara.
Ay, sulit memang, menetak badan ini
menjadi dua karakter sama persis
sementara
kita hidup dalam lingkaran garis tipis tipis

tetapi di sini, angin masih sejuk
di ruang belakang, engkau lalu lalang
melintas di depanku
duduk di samping meja kayu, menunggu
pesanan segelas kopi
yang airnya masih di panaskan.

Metro-Lampung, 22122017


IA TELAH SEPAKAT DENGAN DUNIA
UNTUK SALING MENGKHIANATI

Akhirnya ia memutuskan
untuk tenggelam
ke balik riwayat yang disembunyikan
setelah sepakat dengan dunia
bahwa mereka akan saling mempermainkan.

Jalanan terus berjalan
kota kota menari
keriuhan satu persatu menemukan
tempatnya-

setiap kita, punya cara bersikap
membangun hikayat masing masing
memeriksa jasad
dan tersenyum diam diam.

Tak perlu pula lah 'meledak-kan' badan
di keramaian
sementara orang orang yang terciprat darah kita
mencucinya pada udara bising
menyeringai, dan muntah kata kata.

Itu sebab ia sepakat dengan dunia
untuk saling mengkhianati, meski diam-
diam saling pula mencintai.

Metro-Lampung, 22122017


Tentang Penulis

Riduan Hamsyah, Puisi puisi telah dipublikasikan sejak tahun 2003 tetapi cukup lama pakum karena kesibukan kerja pada salah satu instansi pemerintah di Pandeglang-Banten, antara lain di Harian Amanah (Jakarta), SimalabaPalembang Ekspres, Majalah Sabili, Jurnal Sajak, Majalah Puisi, Lampung Post, Dinamika News, Harian Media Kalimantan, Radar Banjarmasin, Harian Satelit News, Litera.co, wartalambar.com, saibumi.com, nusantra news dan berbagai media massa di seluruh tanah air lainnya. Puisi puisi juga dimuat dalam puluhan buku antologi yang terbit sejak tahun 2006 hingga 2018, terbaru buku PUISI UNTUK PERDAMAIAN DUNIA (Pertemuan Penyair Nusantara X 2017 di Banten), PESONA RANAH BUNDO (Antologi Puisi Wartawan Indonesia 2018), NEGERI BAHARI (Negeri Poci 8), NEGERI AWAN (Negeri Poci 7), THE FIRST DROP OF RAIN (Banjarbaru festival 2017), 100 PUISI TENTANG MASJID (2017), LEBIH BAIK PUTIH TULANG DARI PADA PUTIH MATA (Pestival Puisi Bangakalan 2 tahun 2017), MAZHAB RINDU (FLP Ciputat 2017), TENTANG PEREMPUAN (FLP Kediri 2017), EMBUN PAGI LERENG PESAGI DAN SEBUAH PANDUAN MENULIS PUISI (Perahu Litera 2017)MEMBACA KARTINI (Q Publisher dan Komunitas Jobawi 2016), IJE JELA (Tifa Nusantara 3 2016)CIMANUK-KINI BURUNG BURUNG TELAH PERGI (Sail Cimanuk 2016-Dewan Kesenian Indramayu), SEPASANG PUSI (Antologi Pribadi-Perahu Litera 2016), TANAH PILIH (TSI Jambi 2007), 142 PENYAIR MENUJU BULAN (KSSB Kalsel 2006), dll.

Tidak ada komentar