HEADLINE

MENAMPAR INGATAN_Puisi Puisi Adekta Marbun (Sastra Harian)

Redaksi Simalaba menerima tulisan puisi (minimal 5 judul), cerpen dan cernak (minimal 5 halaman A4) esai, opini, artikel dan liputan kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi majalah Simalaba untuk dipublikasikan setiap hari (selain malam minggu) kirim karyamu ke e-mail : majalahsimalaba@gmail.com
Beri subjek SASTRA SETIAP HARI.
(Belum berhonor)



MENAMPAR INGATAN

Malam menampar ingatan
bersama hasrat melawan takdir
tenggelamkan rasa seolah sesak di dada.

Lintang bertabur di nabastala
wujud rindu yang di bendung
berpuluh tahun lamanya.

Tak ketemu cahaya
dingin dan panas sama
semenjak takdir bertindak.

Ada saja rakit menghampir
mengajak menepi dan mengiklash
namun kenihilan adalah hasilnya.

Sibolga, Juni 2018


KEHILANGANMU

Di hening malam aku teringat pada sosok insan
yang menjelma batu sandungan untuk gadis ini
penghapus segala gundah
pemberi jawab dari pertanyaan
pun pemberi cinta nan abadi.

Penopang gadis kecil ini
teman, sahabat tertawa terbahak bahak bersama
segelas kopi hangat kusuguhkan peneman riang dalam hari
ukiran senyum begitu intens tersemat dalam ingatan.

Kini hanya air mata yang setia menjadi pendamping
ketika wajah itu kembali datang bersua
potret kecil tergantung di dinding dinding kamar
dengan tangannya merangkul tubuh ini
penuh cinta, damai aku rindu semuanya.

Puluh tahun sudah-sudah
mengiklashkan? tiada sanggup rasanya
tiada lagi penghapus air mata ini
tiada lagi kudengar
"aku mencintai mu"

Kehilanganmu, penyebab aku ragu tuk berdiri tegar
sampai detik ini untuk menerima kehilangan mu aku belum sanggup ayah.

Sibolga, Juni 2018


DAN JIKA SAMPAI KEPADA SANG MASA


Dapatkah sajak ini kulepaskan
kepada serat rindu
berlapis
bagai gunung tak kunjung datar.

Dunia sudah berbeda
literasi
mengalir sebagai harta
dalam tiap desah napasku
tumbuhnya berkoloni
sangat kuat.

Dan jika sampai kepada sang masa
tubuhku menemanimu dalam syurga
duhai roh yang selalu kupanggil Ayah
dalam linangan hujan.

Sibolga, Juni 2018


MENGISAHKAN RINDU

Awan tidak lagi putih
kini redup bagaikan gelap
semesta berduka.

Pergi dengan senyum untuk tidak kembali
mengisahkan rindu tak berkesudahan
sebilah harap menuju temu terselip di doa.

Malam pamit di sambut pagi
harap kembali belum berhasil di akhiri
pelangi enggan menampakkan eloknya
setelah hujan berlalu.

Ayah, puan ini rindu hadirmu.

Sibolga, Juni 2018


KEPADA DIA YANG JAUH

Taburan lintang pada nabastala mengajakku untuk meramal hadirmu
bersama udara pembawa rindu.

Di malam yang bersinar rembulan
Kuteringat pada dia,
Pahlawanku.

Sesosok Gagah dan baik,
yang mencintai dengan tulus
Kusebut dia Ayahku.

Lara adalah hadiahnya
kini ia telah bersama Bapa.

Sibolga, Juni 2018


Tentang Penulis :


Adekta Marbun lahir di Desa Raso Unte Mungkur IV Kec.Kolang  pada tanggal 29 Oktober 2001. Sekarang bersekolah di SMA Swasta Katolik Sibolga penyuka warna ungu ini tergabung di komunitas Ikatan Penulis Indonesia.


Tidak ada komentar