HEADLINE

SEKURA: TRADISI UNIK YANG TERUS DIPERTAHANKAN MASYARAKAT LAMPUNG BARAT



SEKURA adalah sebuah tradisi unik yang berasal dari Lampung, bagian Barat. Sebuah tradisi yang sudah sejak turun temurun menjadi ruh kebudayaan masyarakat di wilayah ini sekaligus juga sebagai kekayaan kebudayaan nasional negeri kita.
Sekura yang dikenal sebagai tupping atau topeng merupakan sebuah carnaval pada peringatan hari hari besar agama atau pada berbagai acara yang ada kaitannya dengan perayaan kebudayaan bagi masyarakat Lampung Barat, wilayah kerajaan Skala Beghak. ‘Sekura-an’ atau tradisi Sekura memiliki hikayat cukup panjang serta kental dengan nilai nilai spiritual masyarakat setempat.
Sejarah Sekura sendiri sudah berlangsung sekitar abad ke-9 Masehi, berawal dari sebuah penganut kepercayaan kuno yang memiliki pengaruh cukup lama dan kuat pada masyarakat di wilayah Lampung Barat dan sekitarnya. Hingga masuknya sebuah ajaran baru, kemelut tidak bisa terelakkan antara masyarakat dalam satu rumpun, Lampung. Konfrontasi pecah antar jiwa yang sebenarnya bersaudara tersebut. Dan, topeng, sebuah alat yang dipergunakan untuk menutupi wajah agar mereka yang berperang tak saling mengenali satu sama lain. Rasa kasih sayang antar saudara sepekon (sekampung) sebenarnya tidak bisa dihilangkan begitu saja antara manusia yang akhirnya dengan sangat terpaksa saling bersengketa. Saling berhadapan, dan (tentunya) saling bertikai.
Peperangan sengit tersebut diawali karena membela keyakinan masing masing. Masyarakat setempat yang menganut aliran kepercayaan animisme (menyembah roh nenek moyang atau leluhur) dan dinamisme (menyembah benda yang menurut mereka memiliki energi magis). Masuknya ajaran Islam yang membawa dimensi baru lebih realistis, tentu menimbulkan selisih pendapat serta pengaruh, kemudian pecahlah perang tanding yang melegenda tersebut.
Kerajaan kuno di Lampung Barat yang bernama Skala Beghak (baca Skala Behak) dipimpin oleh seorang ratu bernama Sekarmong atau Sekarumong. Rakyat kerajaan Skala Beghak adalah suku Tumi (merupakan suku tertua di Lampung) yang menganut aliran Animisme dan Dinamisme. Tradisi tupping atau topeng sebenarnya telah dikenal oleh suku Tumi sejak turun temurun. Topeng biasa dipakai saat merayakan pemujaan terhadap roh roh para moyang atau benda seperti, gunung, batu, pohon atau tempat tempat tertentu yang dipercaya oleh Ratu Sekarmong bersama rakyatnya bisa memberikan naungan secara spiritualisme.
Tetapi tradisi penyembahan ini mulai terancam setelah kedatangan empat maulana yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat. Keempat orang tersebut bernama Buay Belunguh, Buay Nyerupa, Buay Pernong atau Kenyangan, dan Buay Bejala Diway.Keempat orang terebut merupakan penyebar agama Islam di Liwa dan berhasil menundukkan Ratu Sekarmong, menguasai daerah Skala Berak secara mutlak.
Masuknya Islam bukan tanpa kendala. Gesekan antara kedua kelompok penganut kepercayaan, pelan tapi pasti, tidak bisa terelakan menyulut perselisihan yang berujung kepada pertikaian. Sebelum Islam berhasil menyebar jadi cahaya dan pengaruh di wilayah Skala Beghak peperangan terus pecah. Untuk menghilangkan rasa iba atau tak tega karena bertempur serta me-lu-kai saudara mereka sendiri maka topeng Sekura adalah sebuah alat paling akurat untuk menutupi wajah, sehingga bayangan pertalian saudara tersamarkan di balik bentuk Sekura yang beraneka rupa. Hingga penganut kepercayaan tradisi nenek moyang benar benar kalah serta dinyatakan hilang di wilayah tersebut, menyisakan carnaval dalam dialeg kekinian.
Sekura sendiri terdiri dari dua jenis, yakitu; Sekura Kamak (kotor) dan Sekura Kecah atau Betik (bersih). Ciri dari kedua jenis Sekura ini terlihat jelas dari busana yang dipergunakan saat perayaan carnaval. Sekura Kamak biasanya menggunakan busana yang kotor. Terdiri dari daun daunan atau atribut lainnya yang terlihat semraut, kotor serta tidak rapi. Menurut sejumlah narasumber dari Lampung Barat yang berhasil diwawancarai oleh Majalah Simalaba, Sekura Kamak biasanya diperankan oleh kaum lelaki. Dalam perayaannya, Sekura Kamak, selain menari juga memerankan tradisi tambahan yaitu panjat pinang yang disebut sebagai Sekura Cakak Buah
Sekura Kecah atau Betik adalah berbanding terbalik dengan Kamak. Sekura Kecah menggunakan atribut yang bersih dan rapi, diperankan oleh gadis gadis cantik. Sekura Kecah tidak melakukan Cakak Buah
Dalam tradisi modern, Sekura terus dipertahankan oleh masyarakat Lampung Barat, bahkan pemerintah Provinsi Lampung terus berupaya keras agar warisan budaya serta sejarah Lampung ini bisa dikenal secara luas oleh masyarakat dunia. Berbagai promosi dan pengenalan tentang Sekura juga diekspose dalam festival Krakatau.
Saat ini Sekura juga terus menjadi tradisi yang dipelihara secara baik oleh masyarakat Lampung Barat. Pesta rakyat tersebut digelar saat perayaan hari raya Idul Fitri, biasa di tanggal 1 sampai 7 bulan Syawal. Tetapi ketentuan tersebut tidak mengikat, sebab dalam beberapa perayaan penting lainnya seperti saat kegiatan Himpun Agung Sai Batin Paksi Sekala Brak dan Karnaval Festival Sekala Brak, Sekura dipentaskan. Selain itu setiap tahun juga diadakan Pesta Sekura yang disimbolkan sebagai perayaan kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan. (Redaksi Simalaba)

Tidak ada komentar